Category Archives: Sirah

Gambaran Masyarakat Arab Jahiliyah – Kondisi Ekonomi

Published by:

Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sementara itu kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di Jazirah Arab kecuali pada bulan-bulan suci. Pada saat itulah dibuka pasar-pasar Arab yang sangat terkenal, seperti Ukazh, Dzil-Majaz, Majinnah, dan lain-lainnya. Continue reading

Gambaran Masyarakat Arab Jahiliyah – Kondisi Sosial

Published by:

Setelah membahas kondisi politik dan agama di Jazirah Arab, kini kita akan membahas secara ringkas kondisi sosial, ekonomi, dan akhlak.

Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinya berbeda satu sama lain. Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati, dan dijaga, sekalipun harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seseorang ingin dipuji dan terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka dia harus banyak dibicarakan kaum wanita. Jika seseorang wanita menghendaki, maka dia bisa mengumpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika mau dia bisa menyalakan api peperangan dan pertempuran di antara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki-laki tetap dianggap sebagai pemimpin di tengah keluarga, yang tidak boleh dibantah dan setiap perkataannya harus dituruti. Hubungan laki-laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita. Seseorang wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Continue reading

Agama Bangsa Arab

Published by:

Mayoritas bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il ‘alaihissalam, yaitu tatkala beliau menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim ‘alaihissalam, yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya. Waktu bergulir sekian lama, hingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Sekalipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal suka berbuat bijak, mengeluarkan sedekah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani. Kemudian dia mengadakan perjalanan ke Syam. Di sana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Makkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Makkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci. Continue reading

Kondisi Politik Di Kalangan Bangsa Arab

Published by:

Telah kami jelaskan tentang para penguasa di Arab. Sekarang akan kami jelaskan sedikit gambaran tentang kondisi politik di kalangan mereka. Kondisi politik di tiga wilayah yang ada di sekitar Jazirah Arab merupakan garis menurun, merendah dan tidak ada tambahan yang mengarah ke atas. Manusia bisa dibedakan antara tuan dan budak, pemimpin dan rakyat. Para tuan, terlebih lagi seluruh Arab, berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, dan hamba diwajibkan membayar denda dan pajak. Dengan istilah lain yang lebih gamblang, rakyat bisa diumpamakan ladang yang harus mendatangkan hasil dan memberikan pendapatan bagi pemerintah. Lalu para pemimpin menggunakan kekayaan itu untuk foya-foya, mengumbar syahwat, bersenang-senang, memenuhi kesenangan dan kesewenang-wenangannya. Sedangkan rakyat dengan kebutaannya semakin terpuruk dan dilingkupi kezhaliman dari segala sisi. Mereka hanya bisa merintih dan mengeluh. Tidak berhenti sampai di sini saja, bahkan mereka masih harus menahan rasa lapar, ditekan dan mendapat berbagai macam penyiksaan dengan sikap diam, tanpa mengadakan perlawanan sedikit pun. Continue reading

Kekuasaan di Berbagai Penjuru Arab

Published by:

Di bagian muka telah kami singgung tentang kepindahan kabilah-kabilah Qahthan dan Adnan. Sementara negeri Arab sendiri terpecah-pecah. Kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Hirah mengikuti Raja Ghassan. Hanya saja subordinasi ini hanya sekedar nama, tidak dalam praktiknya. Sedangkan daerah-daerah di Jazirah Arab mempunyai kebebasan secara mutlak. Pada hakikatnya kabilah-kabilah ini mempunyai pemuka-pemuka yang memimpin kabilahnya masing-masing. Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme, adanya manfaat secara timbal balik untuk menjaga daerah, dan menghadang musuh dari luar. Continue reading

Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (Imarah di Hijaz)

Published by:

Isma’il ‘alaihissalam menjadi pemimpin Makkah dan menangani Ka’bah selama hidupnya. Beliau meninggal pada usia 137 tahun. Dua putra beliau menggantikan kedudukannya, yaitu Nabat, yang disusul Qaidar. Ada yang berpendapat sebaliknya. Setelah itu Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi. Maka, kepemimpinan Makkah beralih ke tangan orang-orang Jurhum dan terus berada di tangan mereka. Anak-anak Isma’il merupakan titik pusat kemuliaan. Sebab ayahnyalah yang telah membangun Ka’bah dan mereka tidak mempunyai kewenangan hukum sama sekali. Continue reading

Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (Raja-raja di Syam)

Published by:

Pada masa bangsa Arab banyak diwarnai perpindahan berbagai kabilah, maka suku-suku Qudha’ah juga ikut berpindah ke berbagai daerah di pinggiran Syam dan mereka menetap di sana. Mereka adalah Bani Sulaih bin Halwan, di antara mereka adalah Bani Dhaj’am bin Sulaih, yang dikenal dengan sebutan Adh-Dhaja’amah. Mereka dipergunakan bangsa Romawi sebagai tameng untuk menghadapi gangguan orang-orang Arab sekaligus sebagai benteng pertahanan untuk menghadang bangsa Persi. Untuk itu bangsa Romawi mengangkat seorang raja dari suku ini, yang berlangsung hingga beberapa tahun. Raja mereka yang dikenal adalah Ziyad bin Habulah. Kekuasaan mereka bertahan sejak awal abad kedua Masehi hingga akhir abad itu. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku Ghassan, yang dapat mengalahkan Adh-Dhaja’amah. Bangsa Romawi mengangkat mereka sebagai raja bagi semua bangsa Arab di Syam Ibukotanya adalah Dumatul-Jandal. Suku Ghassan ini terus berkuasa sebagai kaki tangan imperium Romawi, hingga meletus Perang Yarmuk pada tahun 13 H. Raja mereka yang terakhir, Jabalah bin Al-Aiham dapat ditarik masuk ke dalam Islam pada masa Amirul-Mukminin Umar bin Al-Khaththab.

Rujukan:
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. Ar-Rahiiq al-Makhtum.