Category Archives: Sirah

Ide Orang Quraisy Untuk Menghabisi Nabi

Published by:

Setelah orang-orang Quraisy mengalami kegagalan dalam dua kali kedatangan mereka untuk mempengaruhi Abu Thalib, maka mereka kembali bersikap keras dan bengis, bahkan jauh lebih keras dari sebelumnya. Pada hari-hari itu, tiba-tiba muncul ide di kepala para thaghut mereka untuk menghabisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara lain. Tetapi justru kebengisan dan munculnya ide semacam itu yang semakin mengokohkan posisi Islam, dengan masuknya dua pahlawan Makkah yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Al-Khaththab.

Di antara bentuk kebengisan itu, suatu hari Uthbah bin Abu Lahab menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Aku mengingkari ayat, ‘Demi bintang ketika terbenam’, dan ‘Yang mendekati lalu bertambah dekat lagi (Jibril)’. Kemudian dia mulai mengganggu beliau, merobek baju beliau dan meludah ke muka beliau. Untungnya ludah itu tidak mengenai sasaran. Saat itu beliau berdoa, “Ya Allah, buatlah dia dilahap seekor anjing dari ciptaan-Mu.” Continue reading

Quraisy Mengancam Abu Thalib Agar Menghentikan Nabi

Published by:

Para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib dan mereka berkata kepadanya, “Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang yang paling tua, terhormat, dan berkedudukan di tengah kami. Kami sudah pernah memintamu untuk menghentikan anak saudaramu, namun engkau tidak melakukannya. Demi Allah, kami sudah tidak sabar lagi menghadapi masalah ini. Siapa yang mengumpat bapak-bapak kami, membodohkan harapan-harapan kami dan mencela sesembahan kami, maka hentikanlah dia, atau kami menganggapmu dalam pihak dia, hingga salah satu dari kedua belah pihak di antara kita binasa. ” Continue reading

Tipu Muslihat Quraisy dalam Menghadapi Orang-orang Muslim yang Hijrah ke Habasyah

Published by:

Orang-orang musyrik sangat meradang jika orang-orang Muslim itu memperoleh tempat yang aman bagi diri dan agama mereka. Untuk itu mereka memilih dua orang yang cukup terpandang dan cerdik, yaitu Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah, sebelum keduannya masuk Islam. Mereka mengirim dua orang ini sambil membawa berbagai macam hadiah untuk dipersembahkan kepada Raja Najasyi dan para uskup di sana. Terlebih dahulu keduanya menemui para uskup. Sambil menyerahkan berbagai macam hadiah, keduanya mengajukan beberapa alasan agar mereka berkenan mengusir orang-orang Muslim dari sana. Setelah para uskup menyatakan kesediaan untuk mempengaruhi Raja Najasyi, barulah keduanya menemui Raja Najasyi sambil menyerahkan berbagai macam hadiah, mereka berdua berkata, “Wahai tuan raja, sesungguhnya ada beberapa orang bodoh yang telah menyusup ke negeri tuan. Mereka ini telah memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke agama tuan. Mereka datang sambil membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengetahuinya secara persis, begitu pula tuan. Kami diutus para pembesar kaum mereka, dari bapak-bapak, paman dan keluarga mereka untuk menemui tuan, agar tuan berkenan mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. Sebab mereka itu lebih berhak terhadap orang-orang tersebut dan lebih tahu apa yang telah mendorong orang-orang tersebut mencela dan mencaci mereka.” Continue reading

Hijrah ke Habasyah

Published by:

Berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari nubuwah, terutama diarahkan kepada orang-orang yang lemah. Hari demi hari dan bulan demi bulan tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima, sehingga Makkah terasa sempit bagi orang-orang Muslim yang lemah itu. Mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang pedih ini. Dalam kondisi yang sempit dan terjepit ini, turun surah Al-Kahfi, sebagai sanggahan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan orang-orang musyrik kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Surat ini meliputi tiga kisah, di samping di dalamnya terkandung isyarat yang pas dari Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kisah pertama, tentang Ashhabul Kahfi yang diberi petunjuk untuk hijrah dari pusat kekufuran dan permusuhan, karena dikhawatirkan mendatangkan cobaan terhadap agama, dengan memasrahkan diri kepada Allah. Firman-Nya, Continue reading

Beberapa Cara Menghadang Dakwah

Published by:

Tatkala orang-orang Quraisy tahu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak menghentikan dakwahnya, maka mereka memeras pikirannya sekali lagi. Untuk itu mereka memilih beberapa cara untuk membenamkan dakwah ini, yang bisa disimpulkan dalam beberapa hal berikut ini:

1. Ejekan, penghinaan, olok-olok, dan penertawaan. Hal ini mereka maksudkan untuk melecehkan orang-orang Muslim dan menggembosi kekuatan mental mereka. Untuk itu mereka melemparkan berbagai tuduhan yang lucu dan ejekan yang sekenanya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyebut beliau orang yang sinting atau gila. Firman Allah, Continue reading

Tahapan Kedua: Dakwah Secara Terang – Terangan

Published by:

Pertama Kali Menampakkan Dakwah

Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy Syu’ara’: 214)
Permulaan surat Asy-Syu’ara` yang memuat ayat ini menyebutkan kisah Musa ‘alaihi wasallam dari permulaan nubuwah hingga hijrah beliau bersama Bani Israel, hingga mereka selamat dari Fir’aun dan kaumnya yang berkesudahan tenggelamnya Fir’aun dan para pengikutnya. Kisah ini memuat tahapan-tahapan yang dilalui Musa selama menyeru Fir’aun dan kaumnya kepada Allah. Continue reading

Tahapan Pertama: Jihad Untuk Berdakwah Secara Sembunyi – Sembunyi

Published by:

Tiga Tahun Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi

Sebagimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan keras yang tidak bisa diguncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.

Kawanan Pertama Continue reading