Category Archives: Musthalah Hadits

Hadits Dha’if

Published by:

1.Definisinya

A. Secara bahasa: dha’if adalah lawan kata dari kuat. Dha’if atau lemah itu kadang bersifat fisik kadang bersifat maknawi, yang dimaksud di sini adalah dha’if maknawi.

B. Secara istilah: hadits dha’if adalah hadits yang tidak terkumpul padanya sifat hadits hasan dengan tidak terpenuhinya salah satu syarat dari syarat – syarat hadits hasan.

Al-Baiquni berkata di dalam Manzhumah nya:

Continue reading

Nasikh Dan Mansukh Dalam Hadits

Published by:

1. Definisi nasikh mansukh

a. Secara bahasa memiliki dua makna:
Makna pertama adalah peniadaan (الإِزَالَة), misalnya saja:

نسخت الشمس الظل

“Matahari meniadakan gelap”.

Makna kedua adalah pemindahan (النقل), misalnya saja:

نسخت الكتاب

“Kitab itu telah disalin”, ketika isinya telah dipindahkan.

Maka di sini seolah – olah yang menghapuskan (nasikh) itu meniadakan yang dihapuskan (mansukh) atau memindahkannya ke hukum yang lain. Continue reading

Muhkam Dan Mukhtalif Hadits (المحكم ومختلف الحديث)

Published by:

Khobar yang diterima dibagi menjadi dua yaitu khobar yang diamalkan dan khobar yang tidak diamalkan. Dari yang demikian itu muncullah dua pembahasan dalam ulumul hadits yaitu: muhkam dan mukhtalif hadits (المحكم ومختلف الحديث), dan nasikh mansukh (الناسيخ والمنسوخ).

Kali ini akan dibahas permasalahan muhkam dan mukhtalif hadits saja, nasikh mansukh akan dibahas pada tulisan lainnya.

1. Definisi al-muhkam.

A. Secara bahasa: al-muhkam adalah isim maf’ul dari ahkama (أحكم) dengan makna mengetahui dengan baik. Continue reading

Khobar Ahad Yang Diterima Yang Diliputi Oleh Penguat

Published by:

1. Pendahuluan
Dalam penutup pembagian khobar yang diterima (maqbul), dibahas khobar maqbul yang diliputi oleh penguat. Maksud dari diliputi oleh penguat di sini adalah yang meliputi dan menyertai khobar berupa perkara – perkara tambahan atas syarat – syarat yang dibutuhkan oleh khobar maqbul.

Perkara – perkara tambahan ini yang menyertai khobar maqbul akan menambah kekuatannya dan menjadikannya sebagai keistimewaan atas khobar – khobar maqbul lainnya yang tidak memiliki perkara – perkara tambahan tersebut, serta menjadikannya lebih utama.

2. Jenis – jenisnya Continue reading

Hadits Hasan Li Ghairihi

Published by:

1. Definisinya:

Hadits hasan li ghairihi adalah hadits dhaif yang memiliki banyak jalan periwayatan serta sebab kedhaifannya tidaklah karena perawinya fasik atau pendusta.

Dari definisi tersebut terdapat faidah bahwasanya hadits dhaif naik derajatnya menjadi hasan lighairi dengan dua sebab yaitu:

A. Diriwayatkan dari jalur lain sehingga banyak jalur periwayatannya, jalur lain tersebut semisal dengan jalurnya atau lebih kuat darinya.

B. Sebab dhaifnya hadits itu karena buruknya hafalan perawinya, terputusnya sanad, atau tidak diketahuinya salah satu perawinya.

2. Sebab dinamakannya hadits hasan li ghairihi:

Sebab dinamakannya hadits ini dengan sebutan itu adalah bahwasanya kehasanan hadits tersebut tidak datang dari sanad yang pertama melainkan karena bergabungnya sanad tersebut dengan sanad lainnya.

Naiknya derajat hadits dhaif kepada derajat hasan lighairihi dapat kita gambarkan dengan persamaan berikut ini:
Dhaif + dhaif = hasan li ghairihi.

3. Derajatnya:

Hadits hasan li ghairi kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan hadits hasan li dzatihi. Selayaknya bila hadits hasan li dzatihi bertentangan dengan hadits hasan li ghairihi maka hadits hasan li dzatihi didahulukan.

4. Hukumnya:

Hadits hasan li ghairihi dapat diterima sebagai hujah.

5. Contoh hadits hasan li ghairihi

Hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beliau menghasankannya dari jalur Syu’bah, dari ‘Ashim bin Ubaidillah, dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dari bapaknya:

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ

“Bahwa ada seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu rela atas diri dan hartamu dengan dua sandal ini?” Dia menjawab; “Ya.” (‘Amir bin Rabi’ah) berkata; (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) membolehkannya.”

At-Tirmidzi berkata: “Hadits semakna diriwayatkan dari Umar, Abu Hurairah, Sahl bin Sa’ad, Abu Sa’id, Anas, ‘Aisyah, Jabir dan Abu Hadrad Al-Aslami.

Ashim adalah perawi dhaif karena buruknya hafalannya, sungguh at-Tirmidzi menghasankan hadits ini karena ia datang tidak dari satu jalur saja.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Mahmud Ahmad Thahhan. Taisir Musthalah al-Hadits.