Category Archives: Fiqh

Sunnah Sunnah Sholat (3)

Published by:

1. Ta’min (membaca Amiiin).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau membaca:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

beliau mengucapkan; ( آمِينَ) “Amin” sehingga orang yang berada di belakang beliau di shaf pertama mendengar beliau ucapan beliau.” HR. Abu Dawud.
Ibnu Majah menambahkan: “dan masjid pun bergemuruh.” Continue reading

Syarat – Syarat Wajibnya Sholat (Hal – Hal yang Menjadikan Seseorang Wajib Menunaikan Sholat)

Published by:

Syarat – syarat wajibnya sholat (lima waktu) ada tiga hal:

  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal.

Itulah tiga hal batasnya taklif (pembebanan hukum) sholat. Yakni ketika terdapat ketiga hal tersebut di atas maka terdapat kewajiban untuk sholat serta melaksanakan hukum – hukum cabang syariah yang lainnya, dan ketika tidak terdapat ketiga hal tersebut maka hilanglah beban taklif.

Dalil atas syarat Islam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman dan beliau bersabda: Continue reading

Sholat Wajib dan Waktu – Waktunya

Published by:

Sholat yang diwajibkan itu ada lima: (zhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan subuh).

Asal disyariatkannya sholat adalah:

  1. Ayat – ayat al-Qur’an di antaranya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa’ 4 : 103).

  1. Hadits – hadits di antaranya:

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits al-isra’:

فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً …… فَرَاجَعْتُ رَبِّي فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

“Lalu Allah memfardhukan shalat lima puluh waktu atas umatku.’……..”Lalu aku kembali pada Rabbku.’ Maka Allah berkata, ‘Ia lima waktu, dan ia lima puluh waktu. Perkataan tersebut tidak diganti di sisiku.’ HR. Bukhari dan Muslim.

( خَمْسٌ) lima waktu yakni dari sisi perbuatan. (خَمْسُونَ) lima puluh waktu yakni dari sisi pahala. Continue reading

Hal – Hal yang Diharamkan Bagi Orang yang Junub dan Berhadats (Kecil)

Published by:

Hal – hal yang diharamkan bagi orang yang junub ada 5 hal:

  1. Sholat

Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. An-Nisa’ 4 : 43).

Maksud kata “shalat” dalam ayat (لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ) yang berkaitan dengan junub adalah tempat shalat. Sebab, melewati jalan tidak mungkin dilakukan saat shalat. Oleh karena itu, larangan shalat bagi orang yang junub merupakan larangan yang lebih kuat (orang yang junub hanya boleh untuk sekedar berlalu saja, bagaimana mungkin dia bisa menetap di tempat shalat dan mengerjakannya?). Continue reading

Larangan Bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Published by:

Hal – hal yang diharamkan bagi wanita yang haid dan nifas ada 8 hal:

  1. Sholat

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy bahwasanya dia terkena darah penyakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Apabila itu darah haid, maka ia berwarna hitam sebagaimana yang diketahui (oleh wanita). Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Namun apabila darah itu lain, maka berwudhulah dan kerjakanlah shalat, karena itu hanyalah cucuran darah (dari urat)”. HR. Abu Dawud.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: Continue reading

Darah Haid, Nifas, dan Istihadhah

Published by:

Ada tiga jenis darah yang keluar dari farji: yaitu darah haid, nifas, dan istihadhah.

Darah haid adalah: darah yang keluar dari farji wanita yang sehat tanpa sebab melahirkan. Warnanya hitam menyala (merah kehitam – hitaman) dan menyakitkan (keluarnya).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

خَرَجْنَا لَا نَرَى إِلَّا الْحَجَّ فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قَالَ مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Kami keluar dan tidak ada tujuan selain untuk ibadah haji. Ketika tiba di Sarif aku mengalami haid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: “Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu datang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang haji, kecuali thawaf di Ka’bah.” HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading

Takbiran di Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha

Published by:

Disunnahkan untuk bertakbir (takbiran) pada dua hari raya. Takbiran pada hari raya Id itu ada dua macam, mursal (atau mutlak) dan muqayyad.

  1. Takbir mursal atau takbir mutlak yaitu takbir yang dilakukan di mana saja baik itu di masjid, di pasar, di jalan, dll dengan mengeraskan suara. Takbir mursal dilakukan pada malam hari raya Id dimulai dari tenggelamnya matahari hingga imam mulai melaksanakan shalat id.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]:185). Continue reading