Category Archives: Fiqh

Halalnya Sembelihan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani)

Published by:

Sembelihan ahli kitab dibolehkan secara prinsip dengan ijma’ berdasarkan firman Allah ta’ala:

Allah ta’ala berfirman:

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” QS. Al-Maidah: 5.

Sembelihan kaum ahli kitab yang dibolehkan adalah: sembelihan hewan apa saja yang mereka yakini dalam syariat mereka sebagai sesuatu yang halal bagi mereka, namun tidak untuk yang diharamkan bagi kaum muslimin seperti daging babi, meskipun tidak diketahui bahwa mereka menyebut nama Allah ta’ala, atau sembelihan tersebut adalah bagi gereja mereka atau hari suci mereka, dan meskipun mereka meyakininya sebagai makanan yang haram seperti daging unta. Continue reading

Hal – Hal yang Membatalkan Sholat

Published by:

1. Berbicara dengan sengaja.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلَى جَنْبِهِ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى نَزَلَتْ
{ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ }
فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ

“Dahulu kami bercakap-cakap dalam shalat. Seorang laki-laki bercakap-cakap dengan teman di sampingnya dalam keadaan shalat, hingga turun ayat, “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”. (QS. Al-Baqarah: 238). Lalu kami disuruh diam, dan dilarang bercakap-cakap’.” Continue reading

Gerakan/Perbuatan Yang Tidak Membatalkan Sholat

Published by:

Seseorang yang sedang sholat kemudian melakukan suatu gerakan yang tidak termasuk bagian dari gerakan sholat, bila gerakannya tersebut sedikit misalnya saja menghalangi orang yang hendak lewat di depannya, membunuh ular atau kalajengking, melepaskan sandal, membetulkan jubahnya, membawa sesuatu, menjawab orang yang mengucapkan salam kepadanya dengan isyarat, atau yang menyerupai gerakan – gerakan tersebut, maka tidak batal shalatnya. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menghalangi orang yang hendak lewat di depan orang yang sedang shalat, Nabi juga memerintahkan untuk membunuh ular dan kalajengking saat shalat, beliau melepaskan sandalnya saat shalat, beliau juga pernah mengangkat Umamah binti Abi al-Ash dalam shalat, dan Nabi juga pernah menjawab salamnya orang Anshar dengan isyarat dalam shalat.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Continue reading

Perbedaan Sholatnya Wanita dan Laki – Laki

Published by:

Sholatnya wanita berbeda dengan sholatnya laki – laki dalam lima hal:

1. Laki – laki menjauhkan sikunya dari perut bagian sampingnya saat sujud.

Dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

“bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya.” HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading

Menggabungkan Puasa Qadha’ Ramadhan dan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Published by:

Pertanyaan: Apakah boleh menggabungkan antara niat puasa qadha’ (puasa mengganti puasa yang ditinggalkan saat bulan ramadhan) dan niat puasa enam hari di bulan Syawal?

Jawaban oleh Dr. Ali Jum’ah

Dari Abi Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa.” HR. Muslim di dalam shahihnya. Continue reading

Sunnah Sunnah Sholat (4)

Published by:

1. Mengucapkan : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ dan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ketika bangkit dari ruku’.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai sholat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH’, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU’. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” HR. Bukhari dan Muslim.

2. Membaca tasbih dalam ruku’ dan sujud. Continue reading

Sholat Sunnah Rawatib

Published by:

Sholat sunnah rawatib yaitu sholat – sholat sunnah yang mengikuti sholat fardhu di antaranya adalah:

1. Dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tekuni daripada dua raka’at fajar”. HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading