Category Archives: Fiqh

Apakah Makruh Mengucapkan Ramadhan Saja?

Published by:

Para pengikut Imam Malik rahimahullah ta’ala berkata: makruh berkata Ramadhan saja tanpa disandarkan kepada kata bulan. Maka tidaklah diucapkan kecuali mengucapkan Bulan Ramadhan. Sama saja apakah di situ terdapat indikasi yang lain ataukah tidak.

Mereka mengklaim bahwa Ramadhan termasuk salah satu nama dari nama – nama Allah ta’ala.

Continue reading

Bulan Yang Wajib Untuk Berpuasa

Published by:

Bulan yang wajib untuk berpuasa adalah saat bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah ta’ala:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡیَصُمۡهُ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” QS. Al-Baqarah: 185.

Tidak wajib berpuasa di luar bulan Ramadhan berdasarkan pokok syariat yaitu ijma’. Yang demikian itu karena apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat seorang Arab Badui bertanya kepadanya mengenai Islam sehingga beliau menjawab “Dan berpuasa di bulan Ramadhan”. Arab Badui itu kemudian bertanya: “Apakah atasku ada yang lainnya?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak, kecuali puasa sunnah”.

Dikecualikan, bila ia wajib berpuasa karena sebab – sebab yang jelas seperti puasa kafarat, denda karena membunuh binatang buruan saat ihram, dan sebagainya.

Adapun hukum – hukum puasa dan atas siapa saja puasa itu wajib, akan kami jelaskan sebentar lagi.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Pengertian Puasa (الصيام)

Published by:

Arti puasa (الصيام) secara bahasa adalah menahan (الإمساك). Digunakan pada setiap hal yang bersifat menahan. Dikatakan: (صام) ketika diam. Dikatakan: (صامت الخيل) ketika kuda itu berhenti. Sebagaimana juga dikatakan: (صام) ketika menahan diri dari berbicara. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

إِنِّی نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَـٰنِ صَوۡمࣰا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡیَوۡمَ إِنسِیࣰّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” QS. Maryam: 26.

Adapun arti puasa (الصيام) secara syar’i adalah menahan yang tertentu, dari sesuatu yang tertentu, pada waktu tertentu, dan oleh seseorang yang tertentu.

Sesuatu yang tertentu yang menahan diri dari melakukannya adalah yang membatalkan puasa sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Waktu yang tertentu adalah hari puasa, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Tata Cara Menguburkan Jenazah

Published by:

1. Jenazah dikuburkan dalam liang lahat dengan menghadap ke kiblat.

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash berkata di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya:

الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di atas kuburanku sebagaimana yang diperbuat pada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR. Muslim.

Lahad itu adalah celah di bagian bawah samping arah kiblat dari kubur. Continue reading

Tata Cara Sholat Jenazah

Published by:

Shalat jenazah dilaksanakan dengan empat kali takbir.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya lalu Beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang kemudian Beliau membariskan mereka dalam shaf lalu Beliau bertakbir empat kali”. Continue reading

Hukum Senandung Sholawat Kaum Wanita Di Atas Panggung Sebelum Tabligh Akbar

Published by:

Persoalan:
Di beberapa tempat terdapat acara keIslaman (tabligh akbar dll) yang diawali dengan penampilan sekelompok kaum wanita membawakan senandung nasyid (nyanyian, sholawat, dsb) diiringi rebana di atas panggung yang disaksikan oleh seluruh jama’ah (laki – laki maupun wanita). Apakah hukum bagi acara yang demikian itu?

Penjelasan:

Bismillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, ‘amma ba’du.

Terkait salah satu rangkaian acara yang ditanyakan, perlu dibahas hal – hal sebagai berikut:

1. Apa hukumnya membaca sholawat sebagai acara pembuka? Continue reading

Hukum Sholat Berjama’ah Di Masjid Bagi Kaum Wanita

Published by:

Soal:

Apa hukumnya wanita keluar dari rumahnya menuju ke masjid untuk menghadiri sholat berjama’ah? Dan apa hukumnya adanya tempat khusus di dalam masjid bagi sholat jama’ahnya wanita, bangunannya dibangun menggunakan metode modern serta menggunakan pengeras suara?

Jawab:

Penulis kitab ‘Umdatus Salik wa ‘Uddatun Nasikin dalam Bab Sholatul Jama’ah berkata: makruh hadir ke masjid bagi المُشْتَهَاة atau pemudi (yakni perempuan yang berhasrat kepada laki -laki, umumnya anak perempuan yang berusia 9 tahun ke atas), tidak makruh bagi selain keduanya ketika aman dari fitnah. Continue reading