Category Archives: Fiqh

Syarat – Syarat Melaksanakan Sholat Jum’at

Published by:

1. Dilaksanakan di kota negeri (المصر)atau kota kecil (desa). Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum tidak melaksanakan sholat jumat kecuali dilaksanakan di kota negeri. Kabilah – kabilah Arab yang tinggal di sekitar kota Madinah juga tidak melaksanakannya di tempat – tempat mereka, Nabi pun tidak memerintahkan mereka untuk hal itu. Continue reading

Syarat – Syarat Wajibnya Sholat Jum’at

Published by:

Syarat – syarat wajibnya sholat jum’at ada tujuh:

1. Islam
2. ‎Baligh
3. ‎Berakal
4. ‎Merdeka
5. ‎Laki – Laki
6. ‎Sehat
7. ‎Tinggal menetap (yakni mukim dan tidak safar).

Dalil atas tiga syarat pertama adalah syarat sholat sebagaimana telah dibahas pada pembahasan mengenai sholat.

Adapun dalil atas empat syarat lainnya adalah: Continue reading

Sholat Jama’

Published by:

Boleh bagi musafir untuk menjama’ (mengumpulkan) antara sholat zhuhur dengan sholat ashar pada waktu mana saja saat zhuhur atau ashar yang dikehendaki. Demikian juga boleh bagi musafir untuk menjama’ sholat maghrib dengan sholat isya’ pada waktu mana saja saat maghrib atau isya’ yang dikehendaki.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Continue reading

Sholat Qashar

Published by:

Boleh bagi seorang musafir untuk mengqashar (meringkas) sholat fardhu empat raka’at menjadi dua raka’at berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

“Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qashar sholat” QS. An-Nisa’: 101.

ضَرَبْتُمْ
Yakni safar/bepergiannya kalian.

Dari Ya’la bin Umayyah beliau berkata: “Aku berkata kepada Umar bin al-Khatthab:

َلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Tidaklah berdosa kamu meng-qashar sholat, jika kamu takut diserang orang kafir.” QS. An-Nisa’:101.

sementara manusia saat ini dalam kondisi aman (maksudnya tidak dalam kondisi perang).” Umar menjawab; “Sungguh aku juga pernah penasaran tentang ayat itu sebagaimana kamu penasaran, lalu aku tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat tersebut, beliau lalu menjawab: Continue reading

Sholat Berjama’ah

Published by:

Hukum sholat fardhu berjama’ah adalah sunnah muakkad (menurut sebagian ulama’ madzhab Syafi’i) baik bagi laki – laki maupun wanita berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَة

“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”

Pendapat yang lebih kuat (di dalam madzhab Syafi’i) adalah bahwasanya hukum sholat berjama’ah adalah fardhu kifayah bagi laki – laki yang tinggal menetap atau muqim sedemikian rupa sehingga menampakkan syiar sholat berjama’ah. Hal ini sebagaimana riwayat Abu Dawud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban: Continue reading

Waktu – Waktu Yang Dilarang Untuk Sholat

Published by:

Ada lima waktu yang pada waktu – waktu tersebut kita dilarang untuk melaksanakan sholat kecuali ada sebabnya. Kelima waktu tersebut adalah:
1. Setelah sholat subuh hingga terbitnya matahari.

2. Setelah terbit matahari hingga naiknya matahari secara sempurna setinggi tombak.

3. Saat matahari ditengah – tengah hari hingga tergelincir. Continue reading

Hal – Hal Yang Tertinggal Dalam Sholat

Published by:

Hal – hal yang tertinggal dalam sholat termasuk dalam salah satu dari kategori:
1. Fardhu (Sholat)
2. Sunnah (Ab’adh)
3. (Sunnah) Hai’ah.

Adapun bila yang tertinggal adalah fardhu sholat, maka tidak dapat digantikan dengan sujud sahwi. Bila ia mengingatnya dan waktunya dekat, ia dapat mengerjakan fardhu sholat yang ditinggalkan tersebut dan ditambah dengan sujud sahwi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَقَصَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَحَقٌّ مَا يَقُولُ قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَالَ سَعْدٌ وَرَأَيْتُ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ صَلَّى مِنْ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فَسَلَّمَ وَتَكَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى مَا بَقِيَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا فَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur atau ‘Ashar bersama kami, lalu Beliau memberi salam. Kemudian Dzul Yadain berkata kepada Beliau: “Wahai Rasulullah, apakah shalat dikurangi (raka’atnya)?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya: “Benarkah yang dikatakannya?” Orang-orang menjawab: “Benar”. Maka Beliau menyempurnakan dua raka’at yang tertinggal lalu sujud dua kali”. Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Begitulah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. HR. Bukhari. Continue reading