Category Archives: Fiqh

Puasanya Orang Gila

Published by:

Tidak wajib puasa bagi orang gila yang tetap kegilaannya karena pena juga diangkat (tidak dicatat amalnya) sebagaimana anak kecil.

Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ

“Pena diangkat dari tiga orang; orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga besar (baligh) dan orang gila hingga berakal atau sadar.”

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Puasanya Anak – Anak

Published by:

Tidak wajib puasa bagi anak – anak muslim yang belum baligh karena pena pencatat amal masih diangkat (belum dicatat) atas mereka.

Kecuali bila yang melakukan puasa adalah anak – anak yang telah mumayyiz (dapat membedakan mana yang bermanfaat dan berbahaya bagi dirinya) maka sah puasanya dan ia mendapatkan balasannya.

Continue reading

Puasanya Orang Kafir

Published by:

Adapun orang kafir, tidak wajib puasa atasnya di dunia. Karena tidak sah puasanya kalaupun ia melaksanakannya. Yang demikian itu karena beragama Islam adalah salah satu syarat sahnya puasa.

Sesungguhnya yang wajib atasnya adalah wajibnya hukuman di akhirat. Dengan makna bahwasanya Allah ta’ala memberinya hukuman di akhirat karena tidak melaksanakannya. Allah ta’ala berfirman:

Continue reading

Hukum Puasa Ramadhan

Published by:

Sesungguhnya merupakan perkara yang jelas dan terang benderang, diketahui oleh yang besar dan yang kecil, orang yang ‘alim dan yang jahil, bahwasanya puasa di bulan Ramadhan itu wajib atas setiap muslim yang telah baligh dan yang berakal.

Allah ta’ala berfirman:

Continue reading

Keutamaan Bulan Ramadhan dan Berpuasa Di Dalamnya

Published by:

Sesungguhnya aku ingin memohon izin kepada pembaca sekalian untuk berpindah dari tulisan yang bersifat fiqih menuju kepada tulisan adabi dalam beberapa halaman ini karena apa yang berkumpul di dalam dada mengenai keutamaan Ramadhan dan keutamaan berpuasa.

Apakah engkau ingin mengenal Ramadhan?

Bila demikian:

Apakah engkau mengetahui bunga mawar itu tersenyum karena embun?

Apakah engkau mengetahui kupu – kupu itu menari – nari karena bunga – bunga?

Apakah engkau mengetahui burung bulbul itu bernyanyi karena keindahan?

Apakah engkau mengetahui malam itu berakhir karena terbitnya fajar?

Apakah engkau mengetahui kehidupan itu diperbarui karena tibanya musim semi?

Apakah engkau mengetahui jiwa itu menjadi bening karena waktu petang dan waktu sahur?

Apakah engkau mengetahui orang yang jatuh cinta itu leleh hatinya ketika memori yang dicintainya kembali lagi?

Jika kalian mengetahui yang demikian ini, maka kalian mengetahui perasaan seorang mu’min ketika muncul hilal Ramadhan, atau ketika kembali lagi memori mengenainya.

Continue reading

Tatacara Berpuasa Pada Permulaan Islam

Published by:

Puasa pada permulaan Islam tidak seperti puasa sekarang ini yang mana perintah puasa telah tetap. Yang puasanya dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Sesungguhnya perintah puasa pada permulaan Islam adalah haram atas orang yang berpuasa untuk makan, minum, jima’, dan hal – hal lain yang membatalkan puasa dari sejak tidur atau sholat isya’ yang akhir, mana saja yang terjadi lebih dulu. Kemudian yang demikian itu dihapus dan diperbolehkan untuk makan, minum, dan jima’ hingga terbitnya fajar. Sama saja apakah telah tidur sebelumnya ataukah tidak.

Continue reading

Sejarah Disyariatkannya Puasa

Published by:

Puasa pada permulaan Islam dimulai dengan  puasa tiga hari pada setiap bulan dan puasa Asyura’.

Kemudian turun firman-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah: 183.

Maka barang siapa yang menghendaki, ia berpuasa. Barang siapa yang menghendaki, ia berbuka. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala di akhir ayat:

Continue reading