Category Archives: Aqidah

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Wahdaniyat (Esa)

Published by:

Agama Islam dikenal sebagai agama tauhid. Agama Islam adalah agama para Nabi sebelum – sebelumnya seluruhnya. Akan tetapi agama – agama yang sebelumnya telah diubah namun Allah ta’ala menjaga agama Islam dari pengubahan. Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menyatakan ketauhidan/ke-Esaan Allah sebagaimana firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” QS. Muhammad : 19.

Allah ta’ala juga berfirman: Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Qudroh (Kuasa)

Published by:

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat Qudroh Allah ta’ala: Continue reading

Makna Islam

Published by:

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwasanya Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai iman di depan para pendengar dari kalangan para sahabat, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruknya.”

Kemudian Jibril bertanya mengenai Islam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – Makna Iman

Published by:

Makna iman secara Bahasa adalah at-tashdiq (pembenaran), at-tashdiq itu sendiri adalah ketundukan terhadap hukumnya, menerimanya, dan mengakuinya. Kata iman diambil dari kata al-amnu (aman) yang merupakan lawan kata dari al-khauf (takut). Hal ini karena siapa yang mempercayai terhadap suatu hukum maka ia selamat dari pendustaan atau ingkar kepadanya. Maka ketika kita katakan: (Muhammad Rasulullah) artinya kita berhukum dengan risalahnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, barangsiapa yang membenarkan dan tunduk terhadap hukum ini maka ia telah beriman/mukmin dengannya.

Adapun makna iman secara istilah ahli syariat adalah apa – apa yang menyelamatkan orang yang mempercayainya dari kekekalan di dalam api neraka dan memperoleh kemenangan dengan berada di surga selama – lamanya walaupun pernah diadzab di neraka dalam beberapa masa. Untuk mengetahui makna yang dalam mengenai keimanan ini kami perlihatkan gambaran keadaan manusia secara nyata, dengan menyebutkannya secara kontradiktif sehingga tampak perbedaan segala sesuatunya sebagai berikut: Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Adalah Kewajiban yang Pertama

Published by:

Kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf adalah mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah) yakni mengetahui sifatNya yang mulia dan agung. Maka wajib bagi mukallaf untuk mengetahui bahwasanya Allah itu ada, Dia lah yang menciptakan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya, tidak akan ada sesuatu kalaulah bukan karena Dia yang Maha Mulia dan Maha Agung. Seorang mukallaf wajib untuk mengetahui bahwasanya Allah disifati dengan seluruh sifat yang sempurna yang layak bagi kemuliaan dan keagungannya dan menjauhkan segala sifat kekurangan yang tidak layak. Keyakinan – keyakinan (Al-Aqoid) ini dapat diketahui dari Al-Qur’an al-Karim, As-Sunnah yang disucikan, serta dari hal – hal yang mutawatir di antara kaum muslimin. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Hukum Taqlid Dalam Masalah Aqidah

Published by:

Taqlid dalam masalah aqidah adalah: mengikuti orang lain pada apa – apa yang diyakini tanpa mengetahui dalil yang digunakan untuk meyakininya. Adapun ketika seseorang mengetahui dalilnya dan merasa puas dengan dalil tersebut, maka ia bukanlah seorang muqallid (orang yang taqlid) dalam masalah aqidah. Orang yang setuju dengan orang yang lain dalam aqidahnya yang dibangun atas dalil khusus yang digalinya juga bukanlah seorang muqallid dalam masalah aqidah.

Kemudian, seorang muqallid itu ada yang jazm (tetap) yaitu dari sisi apabila orang yang ia ikuti kembali kepada aqidah sebelumnya, muqallid tersebut tidak mengikutinya. Muqallid ada juga yang ghairu jazm (tidak tetap) yaitu dari sisi apabila orang yang ia ikuti kembali kepada aqidah sebelumnya, muqallid tersebut juga kembali kepada aqidah sebelumnya, mengikuti orang yang ia taqlid kepadanya. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Aqidah/Keyakinan yang Wajib Diyakini Oleh Mukallaf

Published by:

Mukallaf (seseorang yang dibebani tanggung jawab) dalam pandangan ulama’ Syariah Islamiyah adalah: manusia yang dituntut untuk mengerjakan perintah – perintah syariat dan meninggalkan apa yang dilarang oleh syariat yang mulia. Baginya balasan dan pahala atas ketaatan, dan ditimpakan kepada dirinya uqubat/hukuman jika menentangnya. Mukallaf adalah orang yang telah sempurna pada dirinya tiga sifat: baligh, berakal, dan telah sampai dakwah Islamiyah kepadanya.

  1. Baligh: adalah kematangan secara badan. Tanda – tandanya yang dikenal di sisi para dokter dan ahli fiqh yang paling penting yaitu mimpi basah, yakni keluarnya mani, ini pada laki – laki maupun perempuan, dan haid pada perempuan saja. Maka kapan saja tanda – tanda ini tampak pada manusia maka ia telah baligh berapapun umurnya. Ketika tidak tampak tanda – tandanya hingga berusia lima belas tahun dengan hitungan tahun qamariyah, maka ia dianggap telah baligh. Yang demikian itu karena aqal dan kesadaran tidak sempurna sebelum ia baligh. Akan tetapi bagi wali anak kecil hendaknya mengajarkannya kaidah – kaidah aqidah Islamiyah dengan kadar yang layak dengan kondisi anak tersebut, juga memerintahkannya shalat dan ibadah serta menjelaskan kepadanya halal dan haram yang dihadapi dalam kehidupan sehari – harinya.
  2. Aqal: kemampuan untuk memahami perkataan, maka orang yang gila bukanlah mukallaf. Orang bodoh yang tidak memahami makna apa yang dikatakan kepadanya bukanlah mukallaf, akan tetapi diajari sebagaimana anak kecil diajari sesuai dengan kondisinya.
  3. Sampainya dakwah yaitu: dia mengetahui bahwasanya Allah ta’ala telah mengutus seorang Rasul kepada manusia namanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan adalah beliau disifati dengan sifat – sifat yang mulia, telah ditegakkan hujjah bahwasanya dia adalah Rasulullah dengan jelasnya mukjizat yang ada di tangannya. Beliau menyeru kepada manusia agar beriman kepada Allah semata tiada sekutu baginya dan agar mentaati perintah – perintah-Nya. Maka siapa saja yang tidak sampai kepadanya dakwah ini maka dia tidak dituntut untuk beriman dan tidak diadzab atas kekafirannya, mereka adalah orang – orang yang termasuk ahlul fitrah yakni orang – orang yang meninggal sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak sampai kepada mereka dakwah nabi – nabi sebelumnya. Demikian pula orang – orang yang terlahir buta dan tuli, maka tidak mungkin baginya untuk mengetahui diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu tidak dihitung sebagai seorang mukallaf karena dakwah tidak sampai kepadanya. Dalil atas disyaratkannya sampainya dakwah adalah firman Allah ta’ala:

Continue reading