Category Archives: Aqidah

Apakah Keimanan Itu Dapat Bertambah dan Berkurang?

Published by:

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa iman itu adalah pembenaran yang pasti terhadap apa – apa yang masyhur di antara kaum muslimin bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang membawanya. Lalu kemudian, apakah keimanan yang demikian itu dapat bertambah dan berkurang?

Bagi para ulama’, terdapat beberapa pandangan terhadap yang demikian itu:

1. Jumhur Asya’irah berpendapat bahwa keimanan itu dapat bertambah dengan sebab bertambahnya ketaatan dan berkurang disebabkan karena berkurangnya ketaatan. Ketaatan itu sendiri adalah mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Continue reading

Sifat – Sifat Yang Wajib Bagi Allah

Published by:

Dalam pembahasan mengenai ilahiyah (ketuhanan) para ulama’ membahas tentang sifat – sifat Allah ta’ala. Sifat – sifat tersebut adalah sifat yang ditetapkan oleh aqal yang salim (selamat) bahwasanya Allah azza wa jalla disifati dengannya. Kemudian datanglah Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi yang mulia yang menjelaskannya. Oleh karena itu kita menjumpai pada sifat – sifat Allah tersebut dalil – dalil yang bersifat naqli (Qur’an dan Sunnah) dan yang bersifat aqli (aqal). Para ulama’ tauhid membagi sifat – sifat Allah tersebut menjadi empat bagian:

1. Sifat nafsiyah: yaitu sifat yang menunjukkan atas diri Dzatnya Allah ta’ala. Maka mensifati-Nya dengan sifat tersebut menunjukkan kepada diriNya tanpa membahas yang lain. Sifat ini adalah sifat wujud. Maka sifat wujud hanya menunjukkan kepada Dzatnya tabaraka wa ta’ala semata. Meskipun demikian, sifat as-Sama’ (السمع) menunjukkan kepada Dzatnya sam’un (سمع) atau Dzatnya yang mendengar. Demikian pula sifat bashar (البصر) menunjukkan kepada Dzatnya yang melihat. Continue reading

Sifat Wajibul Wujud Bagi Allah

Published by:

Salah satu sifat yang wajib bagi Allah ta’ala adalah sifat nafsiyah yaitu sifat wujud secara dzat. Hal ini bermakna keberadaan atau wujudnya Allah ta’ala adalah wajib secara aqal bagi Dzat-Nya, keberadaanNya tidaklah karena suatu alasan atau sebab tertentu. Penjelasan memgenai pembicaraan ini membutuhkan penjelasan kepada dua hal yaitu:

Pertama: maknanya wajibul wujud. Telah dijelaskan pada penjelasan yang lain bahwa makna wajib dalam pembahasan aqidah adalah apa – apa yang ketiadaannya tidak dapat digambarkan oleh aqal (tidak terbayang) dalam suatu keadaan dari keadaan – keadaan. Tidak dapat tergambar baik itu pada keadaan sebelum ini, saat ini, maupun nanti. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: al-Qidam

Published by:

Makna dari sifat qidam Allah subhanahu wa ta’ala adalah bahwasanya keberadaan Allah ta’ala tidak didahului oleh ketiadaan.

Dalam bahasa kita katakan:
هذا كتاب قديم
“Ini adalah kitab yang qadim (dahulu/tua)”.

Akan tetapi berapapun tuanya usia kitab tersebut tetap saja kitab tersebut sebelumnya adalah tidak ada kemudian berwujud ada.

Kita katakan juga:
هذا بناء قديم
“Ini adalah bangunan yang qadim (dahulu/tua)”.

Akan tetapi berapapun tuanya bangunan tersebut tetap saja bangunan tersebut sebelumnya adalah tidak ada kemudian berwujud ada.

Makna yang demikian itu bukanlah yang dimaksud dengan sifat qadim bagi Allah ta’ala karena makna itu menunjukkan kepada adanya sesuatu setelah sebelumnya ia tidak ada yakni bersifat حدوث (baru). Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Al-Baqa’ (Kekal)

Published by:

Maknanya adalah bahwa mustahil bagi keberadaan Allah itu menjadi tiada dikemudian hari, yakni mustahil datang setelah keberadaannya suatu ketiadaan yang menghilangkanNya.

Secara bahasa engkau katakan:

انا باق في المسجد انشاء الله حتى تطلع الشمس

“Aku baaqin (tetap) berada di masjid insya Allah hingga terbit matahari”.

Yakni ketika matahari telah terbit, engkau keluar dari masjid dan hilanglah keberadaanmu di dalam masjid.

Engkau juga mengatakan secara bahasa:

هذ البناء باق الى مشاء الله

“Bangunan ini baaqin (tetap demikian) hingga waktu yang dikehendaki Allah”.

Yakni apabila Allah ta’ala menghendaki hilangnya keberadaan bangunan tersebut maka hilanglah bangunan tersebut dan kemudian diikuti dengan ketiadaan.

Engkau juga mengatakan secara bahasa:

فلان مسافر وانا باق

“Fulan adalah musafir dan aku baaqin (menetap).”

Yakni ia menetap setelah safarnya. Akan tetapi menetapnya itu terputus oleh safar ataukah maut.

Seluruh makna – makna tersebut bagi kata (البقاء) bukanlah makna yang dimaksud bagi baqa’ nya (kekalnya) Allah ta’ala. Akan tetapi yang dimaksud dengan baqa’nya Allah ta’ala adalah mustahil bagi keberadaan Allah itu menjadi tiada yang memutuskan kehidupanNya. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Mukholafat Li al-Hawadits (Berbeda dengan yang baru ada)

Published by:

Al-hawadits (الحواديث) adalah segala sesuatu selain Allah ta’ala dan telah kita tetapkan pada pembahasan – pembahasan sebelumnya bahwa selain Allah ta’ala adalah haadits (حادث) atau baru atau ada awalnya dan makhluknya Allah azza wa jalla. Maka Dzatnya Allah ta’ala tidaklah seperti dzatnya makhluk – makhluk-Nya. Setiap sifat dari sifat – sifatnya tidak seperti sifat – sifat makhluk – makhluk-Nya. Setiap perbuatan-Nya tidaklah seperti perbuatan makhluk – makhluknya. Allah subhanahu wa ta’ala berbicara mengenai dirinya sendiri: Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Qiyamuhu Bi Nafsihi (Berdiri Sendiri)

Published by:

Maksud dari sifat wajib Allah ta’ala qiyamuhu bi nafsihi adalah Ia tidak memerlukan kepada selain dirinya serta ketiadaan kebutuhan terhadap tempat dan kekhususan.

Para ulama’ membagi hal – hal yang dapat diindra menjadi dua bagian: dzat dan aradh (عرض). Ketika kita katakan:

هذا كتاب اخضر مستطيل

“Ini adalah kitab yang berbentuk persegi berwarna hijau”.

Maka kitab dalam kalimat itu adalah dzat, berwarna hijau dan berbentuk persegi adalah aradh (indikasi). Kita dalam menggambarkan suatu dzat pastilah juga menggambarkan aradh nya mulai dari warnanya, panjangnya, ketebalannya, volumenya, tempatnya, zamannya, dst. Continue reading