Category Archives: Aqidah

Bertambah dan Berkurangnya Keimanan

Published by:

Sesungguhnya, hakikat keimanan, asasnya, dan pokoknya, apabila telah teguh di dalam hati seseorang tidaklah bertambah maupun berkurang. Akan tetapi derajat keimanan seseorang dapat bertambah dengan bertambahnya ketaatan dan dapat berkurang dengan berkurangnya ketaatan, karena seluruh ketaatan itu sebagaimana telah dibahas sebelumnya adalah keimanan. Inilah yang dimaksud dengan bertambahnya keimanan di dalam ayat – ayat al-Qur’an berikut ini: Continue reading

Sifat – Sifat Yang Mustahil Bagi Allah Ta’ala

Published by:

Telah kami jelaskan pada pembahasan yang lalu sifat – sifat yang wajib bagi Allah ta’ala. Wajib di sini maknanya adalah: apa saja yang ketiadaannya tidak dapat digambarkan oleh akal. Oleh karena itu maka sifat – sifat yang berlawanan dengan sifat wajib tersebut adalah sifat yang mustahil bagi Allah ta’ala yakni: sifat – sifat yang keberadaannya tidak dapat digambarkan oleh akal. Untuk memperjelas hal ini, kami katakan: wajib adanya Allah ta’ala dan mustahil ketiadaannya, wajib bagi-Nya ada sejak dulu (qidam) dan mustahil bagi-Nya baru ada belakangan ini (huduts), wajib bagi-Nya kekal (baqa’) dan mustahil bagi-Nya fana, wajib bagi-Nya tidak sama dengan makhluk-Nya dan mustahil ada yang menyerupai-Nya. Continue reading

Iman dan Islam Adalah Agama Yang Satu

Published by:

Telah umum di antara manusia dan di sisi jumhur ulama’ bahwasanya al-iman itu bukan al-Islam. Keduanya memiliki penjelasan masing – masing yang menunjukkan kepada makna yang berbeda satu sama lainnya. Secara zhahir keduanya merupakan nama bagi agama yang satu, masing – masing dari keduanya saling melengkapi satu sama lain. Apabila hakikat Islam adalah menyerahkan diri dan ketundukan kepada Allah ta’ala, maka hakikat iman adalah membenarkan. Perbedaan hakikat keduanya dalam hal bahasa dan kebiasaan tidak menghalangi untuk menjadikan keduanya sebagai nama bagi agama yang satu. Seperti halnya kata (الغيث dan المطر) yang sama – sama bermakna hujan, keduanya merupakan nama yang digunakan untuk menyebut satu hal yang satu. Akan tetapi hakikat الغيث dalam lisannya orang Arab bukanlah hakikat dari المطر. Continue reading

Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan Makhluk

Published by:

Telah dibahas pada pembahasan terdahulu mengenai sifat Kalam bahwasanya Kalam itu adalah sebutan untuk lafadz – lafadz, Kalam juga sebutan untuk makna yang ditunjukkan oleh lafadz – lafadz, Kalam juga sebutan untuk tulisan dan huruf – huruf yang menunjukkan kepada lafadz. Madzhab ahlus sunnah wal jama’ah menyatakan bahwasanya Kalamullah yang qadim adalah makna yang berdiri dengan dzat-Nya azza wa jalla. Adapun lafadz – lafadz dan huruf – huruf tidaklah qadim karena merupakan bahasa arab, orang arab dan bahasa mereka adalah termasuk makhluk. Kami katakan: sesungguhnya hal ini dikatakan dalam cakupan untuk pembelajaran dan bantahan bagi kaum Mu’tazilah dan yang selainnya yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Continue reading

Melaksanakan Ketaatan Adalah Keimanan Kepada Allah Ta’ala

Published by:

Pokok – pokok keimanan yang pertama adalah iman kepada Allah ta’ala, malaikat – malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, rasul – rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruknya. Sedangkan pelaksanaan semua ketaatan kepada Allah ta’ala termasuk keseluruhan iman. Maka ketaatan adalah dalil atau hujah atas benarnya keimanan seseorang dan sebagai pondasi hukum bahwasanya seseorang itu mu’min. Allah ta’ala berfirman dalam mensifati kaum mu’minin: Continue reading

Bagaimana Memahami Nash – Nash Yang Mutasyabihat?

Published by:

Merupakan salah satu dari sifat Allah ta’ala: mukholafat lil hawadits (berbeda dengan yang baru ada), sifat ini telah dijelaskan pada pembahasan yang telah lalu. Dalil dari sifat ini adalah firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” QS. As-Syuro: 11.

Al-hawadits adalah segala sesuatu selain Allah ta’ala. Salah satu sifat dari al-hawadits adalah memiliki bentuk dan tubuh, tersusun dari bagian – bagian kecil, terikat waktu dan tempat, dst. Allah tidak menyerupai hal – hal tersebut sedikitpun dan tidak pula menyerupai yang lainnya.

Akan tetapi kita menjumpai nash – nash, yakni ayat al-Qur’an dan hadits – hadits Nabawiyah, yang apabila kita pahami dengan zhahirnya maka akan kita tetapkan adanya keserupaan antara Allah dengan al-hawadits. Hal ini menyelisihi firman-Nya: Continue reading