Category Archives: Aqidah

As-Sa’adah (Kebahagiaan) dan As-Syaqawah (Kecelakaan)

Published by:

Telah dibahas sebelumnya bahwasanya ilmunya Allah ta’ala itu qadim (dahulu) dan meliputi sesuatu sebelum terjadinya. Sudah seharusnya sesuatu itu terjadi sebagaimana Allah ketahui. Dari yang demikian itu: bahwasanya Allah ta’ala mengetahui sejak azali (dahulu) orang – orang yang bahagia dan orang – orang yang celaka. Yang dimaksud dengan orang – orang yang bahagia adalah orang – orang yang mati di atas keimanan, dan yang dimaksud dengan orang – orang yang celaka adalah orang – orang yang mati dalam keadaan kafir. Akan tetapi Allah ta’ala tidak mengazab keduanya berdasar atas ilmu-Nya sebelum terjadi yang diketahui-Nya. Bahkan Allah memberi keduanya kesempatan hingga nampak terwujud, nampak keimanan dari orang – orang yang bahagia hingga ia mati atasnya dan nampak kekufuran dari orang – orang yang celaka hingga ia mati atasnya. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Lafadz – Lafadz Keimanan

Published by:

Masuk ke dalam agama Islam menuntut adanya ucapan dua kalimat syahadat yaitu:

شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah”

Demikian pula dengan berlepas diri dari agama yang sebelumnya juga dituntut dengan adanya dua kalimat syahadat ini. Bila seseorang datang dengan ucapan yang semakna dengannya, maka dapat dikatakan bahwa terdapat keimanan padanya meskipun tanpa kalimat tersebut yang telah diketahui secara umum. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala: Continue reading

Pemenuhan Janji dan Ancaman Allah

Published by:

Sungguh Allah ta’ala telah menjanjikan bagi orang – orang yang sholih pahala dan surga sedangkan bagi orang – orang yang kafir dan berbuat maksiat Allah mengancamnya dengan neraka. Bukti – bukti akan hal ini sangatlah banyak di dalam Kitabullah dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah mantap di dalam diri – diri kaum mu’minin bahwasanya surga adalah bagi orang – orang yang taat dan neraka disediakan bagi orang – orang yang bermaksiat dan bagi orang -orang yang kafir. Akan tetapi para ulama’ menimbulkan dua masalah syar’i (yakni dilandaskan pada kaidah – kaidah syar’iyah bukan pada kaidah -kaidah aqliyah), mereka berkata: Continue reading

Ucapan Insya Allah Dalam Keimanan

Published by:

Keimanan adalah pemberitahuan pembenaran hati terhadap unsur – unsur keimanan yang jumlahnya ada enam sebagaimana telah diketahui. Wajib hukumnya keimanan tersebut disebutkan dengan pengabaran yang bersifat tetap, pasti, tanpa keraguan, dan tanpa istitsna’ (pengecualian) yakni menghubungkannya dengan masyi’atullah (kehendak Allah). Maka tidak boleh mengatakan: “Saya mu’min insya Allah”, karena orang yang berbicara demikian sedang mengabarkan keyakinan apa yang ada di dalam dirinya. Kecuali bila orang tersebut mengatakan yang demikian itu karena menghubungkannya dengan harapan dan keinginan yang besar terhadap keutamaan Allah atau bila hal itu adalah pengabaran terhadap keadaan di masa depan atau hal itu dimaksudkan atas kesempurnaan iman bukan terhadap pokok atau asasnya. Penjelasan ini adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam nash – nash, atsar – atsar, dan perkataan – perkataan para ulama’ berikut ini. Continue reading

Penciptaan Perbuatan Manusia

Published by:

Di dalam kitab at-Tauhid terdapat lima topik bahasan yang saling berkaitan satu sama lainnya hingga tidak ada pembahasan yang khusus dan terpisah di antara topik – topik tersebut. Lima topik bahasan tersebut kembali kepada permasalahan – permasalahan dalam kesimpulan – kesimpulan berikut ini:

Topik Pertama: ilmu Allah ta’ala. Telah kita bahas sebelumnya bahwa ilmu Allah ta’ala itu qadim dan meliputi segala sesuatu. Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya sesuatu. Maka sudah seharusnya kejadian itu bersesuaian dengan ilmu Allah ta’ala. Atau katakanlah: sesungguhnya ilmu Allah ta’ala itu selaras dengan apa yang akan terjadi. Continue reading

Berbeda – Bedanya Tingkat Keimanan Kaum Mu’minin

Published by:

Sebagai konsekuensi dari bertambah dan berkurangnya keimanan sebagaimana telah dibahas sebelumnya adalah bahwasanya kaum mu’minin itu berbeda – beda dan bervariasi dalam keimanan mereka sebagaimana mereka berbeda – beda dalam amal – amal mereka. Yang demikian itu, disebabkan oleh berbeda – bedanya atau bervariasinya mereka dalam ketaatan. Dari konsep ini, maka haram hukumnya mengatakan: “keimananku dan keimanannya para malaikat dan para nabi – sholawatullah wa salamuhu ‘alaihim ajma’in – adalah satu.” Sehingga tidak dibenarkan menyandingkan keimanan mereka – mereka yang utama itu dengan yang selainnya, sama saja apakah mereka itu adalah orang – orang yang sholih atau orang – orang yang zhallim. Contoh bagi hal ini sangat banyak sekali.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Continue reading

Hal – Hal Yang Jaiz (Boleh) Bagi Allah

Published by:

Jaiz (boleh): adalah apa saja yang mungkin keberadaannya dan ketiadaannya secara aqli. Yakni bahwasanya aqal dapat menggambarkan keberadaannya dan dapat pula menggambarkan ketiadaannya. Setiap apa saja yang jaiz (boleh) secara aqli, maka boleh pula hal itu diadakan oleh Allah dan ditiadakan-Nya. Meskipun hal itu tidak mungkin pada umumnya atau tidak dilakukan sebagaimana biasanya. Sebagai contoh, Fulan menjadi seorang yang kaya itu adalah suatu perkara yang jaiz (boleh), maka boleh saja bagi Allah untuk menjadikannya sebagai orang yang kaya. Contoh lain lagi, Fulan menjadi seorang yang alim adalah suatu perkara yang jaiz (boleh), maka boleh saja bagi Allah untuk menjadikannya sebagai orang yang alim dst. Continue reading