Category Archives: Aqidah

Ucapan Insya Allah Dalam Keimanan

Published by:

Keimanan adalah pemberitahuan pembenaran hati terhadap unsur – unsur keimanan yang jumlahnya ada enam sebagaimana telah diketahui. Wajib hukumnya keimanan tersebut disebutkan dengan pengabaran yang bersifat tetap, pasti, tanpa keraguan, dan tanpa istitsna’ (pengecualian) yakni menghubungkannya dengan masyi’atullah (kehendak Allah). Maka tidak boleh mengatakan: “Saya mu’min insya Allah”, karena orang yang berbicara demikian sedang mengabarkan keyakinan apa yang ada di dalam dirinya. Kecuali bila orang tersebut mengatakan yang demikian itu karena menghubungkannya dengan harapan dan keinginan yang besar terhadap keutamaan Allah atau bila hal itu adalah pengabaran terhadap keadaan di masa depan atau hal itu dimaksudkan atas kesempurnaan iman bukan terhadap pokok atau asasnya. Penjelasan ini adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam nash – nash, atsar – atsar, dan perkataan – perkataan para ulama’ berikut ini. Continue reading

Penciptaan Perbuatan Manusia

Published by:

Di dalam kitab at-Tauhid terdapat lima topik bahasan yang saling berkaitan satu sama lainnya hingga tidak ada pembahasan yang khusus dan terpisah di antara topik – topik tersebut. Lima topik bahasan tersebut kembali kepada permasalahan – permasalahan dalam kesimpulan – kesimpulan berikut ini:

Topik Pertama: ilmu Allah ta’ala. Telah kita bahas sebelumnya bahwa ilmu Allah ta’ala itu qadim dan meliputi segala sesuatu. Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya sesuatu. Maka sudah seharusnya kejadian itu bersesuaian dengan ilmu Allah ta’ala. Atau katakanlah: sesungguhnya ilmu Allah ta’ala itu selaras dengan apa yang akan terjadi. Continue reading

Berbeda – Bedanya Tingkat Keimanan Kaum Mu’minin

Published by:

Sebagai konsekuensi dari bertambah dan berkurangnya keimanan sebagaimana telah dibahas sebelumnya adalah bahwasanya kaum mu’minin itu berbeda – beda dan bervariasi dalam keimanan mereka sebagaimana mereka berbeda – beda dalam amal – amal mereka. Yang demikian itu, disebabkan oleh berbeda – bedanya atau bervariasinya mereka dalam ketaatan. Dari konsep ini, maka haram hukumnya mengatakan: “keimananku dan keimanannya para malaikat dan para nabi – sholawatullah wa salamuhu ‘alaihim ajma’in – adalah satu.” Sehingga tidak dibenarkan menyandingkan keimanan mereka – mereka yang utama itu dengan yang selainnya, sama saja apakah mereka itu adalah orang – orang yang sholih atau orang – orang yang zhallim. Contoh bagi hal ini sangat banyak sekali.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Continue reading

Hal – Hal Yang Jaiz (Boleh) Bagi Allah

Published by:

Jaiz (boleh): adalah apa saja yang mungkin keberadaannya dan ketiadaannya secara aqli. Yakni bahwasanya aqal dapat menggambarkan keberadaannya dan dapat pula menggambarkan ketiadaannya. Setiap apa saja yang jaiz (boleh) secara aqli, maka boleh pula hal itu diadakan oleh Allah dan ditiadakan-Nya. Meskipun hal itu tidak mungkin pada umumnya atau tidak dilakukan sebagaimana biasanya. Sebagai contoh, Fulan menjadi seorang yang kaya itu adalah suatu perkara yang jaiz (boleh), maka boleh saja bagi Allah untuk menjadikannya sebagai orang yang kaya. Contoh lain lagi, Fulan menjadi seorang yang alim adalah suatu perkara yang jaiz (boleh), maka boleh saja bagi Allah untuk menjadikannya sebagai orang yang alim dst. Continue reading

Bertambah dan Berkurangnya Keimanan

Published by:

Sesungguhnya, hakikat keimanan, asasnya, dan pokoknya, apabila telah teguh di dalam hati seseorang tidaklah bertambah maupun berkurang. Akan tetapi derajat keimanan seseorang dapat bertambah dengan bertambahnya ketaatan dan dapat berkurang dengan berkurangnya ketaatan, karena seluruh ketaatan itu sebagaimana telah dibahas sebelumnya adalah keimanan. Inilah yang dimaksud dengan bertambahnya keimanan di dalam ayat – ayat al-Qur’an berikut ini: Continue reading

Sifat – Sifat Yang Mustahil Bagi Allah Ta’ala

Published by:

Telah kami jelaskan pada pembahasan yang lalu sifat – sifat yang wajib bagi Allah ta’ala. Wajib di sini maknanya adalah: apa saja yang ketiadaannya tidak dapat digambarkan oleh akal. Oleh karena itu maka sifat – sifat yang berlawanan dengan sifat wajib tersebut adalah sifat yang mustahil bagi Allah ta’ala yakni: sifat – sifat yang keberadaannya tidak dapat digambarkan oleh akal. Untuk memperjelas hal ini, kami katakan: wajib adanya Allah ta’ala dan mustahil ketiadaannya, wajib bagi-Nya ada sejak dulu (qidam) dan mustahil bagi-Nya baru ada belakangan ini (huduts), wajib bagi-Nya kekal (baqa’) dan mustahil bagi-Nya fana, wajib bagi-Nya tidak sama dengan makhluk-Nya dan mustahil ada yang menyerupai-Nya. Continue reading

Iman dan Islam Adalah Agama Yang Satu

Published by:

Telah umum di antara manusia dan di sisi jumhur ulama’ bahwasanya al-iman itu bukan al-Islam. Keduanya memiliki penjelasan masing – masing yang menunjukkan kepada makna yang berbeda satu sama lainnya. Secara zhahir keduanya merupakan nama bagi agama yang satu, masing – masing dari keduanya saling melengkapi satu sama lain. Apabila hakikat Islam adalah menyerahkan diri dan ketundukan kepada Allah ta’ala, maka hakikat iman adalah membenarkan. Perbedaan hakikat keduanya dalam hal bahasa dan kebiasaan tidak menghalangi untuk menjadikan keduanya sebagai nama bagi agama yang satu. Seperti halnya kata (الغيث dan المطر) yang sama – sama bermakna hujan, keduanya merupakan nama yang digunakan untuk menyebut satu hal yang satu. Akan tetapi hakikat الغيث dalam lisannya orang Arab bukanlah hakikat dari المطر. Continue reading