Category Archives: Aqidah

Nama – Nama Allah Dan Sifat – Sifatnya

Published by:

Allah ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama yang terdapat di dalam nash – nash, nama – nama tersebut adalah Asma’ul Husna (nama – nama yang terbaik). Di antaranya ada nama yang agung bagi Allah azza wa jalla yaitu nama yang mencakup makna – makna sifat Allah, nama Dzat yang pengertian – pengertiannya mendalam, luas, dan berfaidah. Maka bagi setiap muslim hendaknya mengenal makna – makna dan pengertian – pengertiannya karena hal itu akan menambah keimanannya. Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” QS. Al-A’raf: 180. Continue reading

Allah Pencipta Segala Sesuatu

Published by:

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna baik (الخَيْر) dan buruk (الشَّر), tidak ada keraguan bahwasanya Islam itu adalah baik dan jahil serta kufur itu adalah buruk. Islam adalah aqidah dan perbuatan yang tampak dari seorang hamba, demikian juga dengan kejahilan dan kekufuran. Di sini terdapat dua pertanyaan sebagai berikut:

Pertanyaan pertama: bahwasanya seorang hamba itu tidak menciptakan amalnya sendiri melainkan memilihnya sebagaimana telah dibahas sebelumnya, maka apakah Allah yang menciptakan keimanan dalam diri seorang hamba? Dan apakah Allah yang menciptakan kejahilan dan kekufuran dalam diri seorang hamba? Continue reading

Iman Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla

Published by:

Cabang pertama dari cabang – cabang keimanan atau pokok yang pertama adalah ucapan:

لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tiada tuhan selain Allah”.

Ucapan itu adalah intisari dan asasnya keimanan serta porosnya keyakinan, ucapan itu adalah pondasi diterimanya amal – amal sholih di sisi Allah ta’ala berdasarkan firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah.” QS. Muhammad: 19.

Juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Mandah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Continue reading

Masalah Kebaikan (الصَّلَاحُ) Dan Yang Lebih Baik (الاَصْلَاحُ)

Published by:

Kaum mu’tazilah mengatakan bahwa melakukan kebaikan (الصَّلَاحُ) dan yang lebih baik (الاَصْلَاحُ) itu wajib atas Allah ta’ala bagi seorang hambanya. Meninggalkan berbuat yang demikian itu adalah kikir dan bodoh, dan itu adalah mustahil bagi Allah ta’ala.

Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah memaparkan bantahan terhadap mereka sebagai berikut: Continue reading

Iman dan Islamnya Anak – Anak Kecil

Published by:

Seorang anak yang dilahirkan dan meninggal sebelum baligh atau anak kecil yang diwafatkan oleh Allah ta’ala sebelum baligh adalah mu’min dan selamat di sisi Allah ta’ala. Maka anak – anak non muslim yang meninggal saat masih kecil, mereka itu selamat dan tidak diadzab. Karena mereka itu sebelum baligh bukanlah termasuk mukallaf yang mendapatkan taklif (beban) hukum dari Allah. Sesungguhnya taklif, pertanggungjawaban, dan balasan itu baru ada setelah baligh.

Dalil bahwasanya anak yang dilahirkan saat baru lahir itu mu’min adalah firman Allah ta’ala:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” QS. Ar-Rum: 30. Continue reading

Sebab Mendapatkan Ganjaran Atau Balasan

Published by:

Ini adalah topik bahasan yang ketiga dari lima topik bahasan yang saling berhubungan yang telah disebutkan sebelumnya. Topik tersebut yaitu sebab didapatnya ganjaran yakni apa saja yang diminta pertanggungjawabannya pada seorang mukalaf sehingga ia mendapatkan pahala atau berhak untuk mendapatkan hukuman? Untuk kejelasan urusan ini sudah seharusnya kita memperhatikan apa saja yang datang dari Sunnah Nabawiyah as-Syarifah yang terkait dengan topik ini: Continue reading

Keimanan Seorang Muqallid dan Murtab

Published by:

Muqallid di sini maksudnya adalah orang yang memeluk agama karena agama tersebut adalah agama orang tuanya, kerabatnya, dan penduduk negerinya. Tidak ada padanya hujah atas kebenaran aqidahnya. Yakni sesungguhnya keimanannya itu adalah semata – mata warisan tanpa hujah dan tanpa bukti.

Murtab (orang yang ragu – ragu) adalah orang yang berkata: aku meyakini Islam dan mengikuti orang – orang Islam sebagai kehati – hatian bagi diriku. Apabila Islam itu benar maka aku termasuk orang – orang yang menang. Namun bila Islam itu tidak benar sama sekali maka hal itu tidak akan membahayakanku. Continue reading