Category Archives: Aqidah

Masalah Kebaikan (الصَّلَاحُ) Dan Yang Lebih Baik (الاَصْلَاحُ)

Published by:

Kaum mu’tazilah mengatakan bahwa melakukan kebaikan (الصَّلَاحُ) dan yang lebih baik (الاَصْلَاحُ) itu wajib atas Allah ta’ala bagi seorang hambanya. Meninggalkan berbuat yang demikian itu adalah kikir dan bodoh, dan itu adalah mustahil bagi Allah ta’ala.

Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah memaparkan bantahan terhadap mereka sebagai berikut: Continue reading

Iman dan Islamnya Anak – Anak Kecil

Published by:

Seorang anak yang dilahirkan dan meninggal sebelum baligh atau anak kecil yang diwafatkan oleh Allah ta’ala sebelum baligh adalah mu’min dan selamat di sisi Allah ta’ala. Maka anak – anak non muslim yang meninggal saat masih kecil, mereka itu selamat dan tidak diadzab. Karena mereka itu sebelum baligh bukanlah termasuk mukallaf yang mendapatkan taklif (beban) hukum dari Allah. Sesungguhnya taklif, pertanggungjawaban, dan balasan itu baru ada setelah baligh.

Dalil bahwasanya anak yang dilahirkan saat baru lahir itu mu’min adalah firman Allah ta’ala:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” QS. Ar-Rum: 30. Continue reading

Sebab Mendapatkan Ganjaran Atau Balasan

Published by:

Ini adalah topik bahasan yang ketiga dari lima topik bahasan yang saling berhubungan yang telah disebutkan sebelumnya. Topik tersebut yaitu sebab didapatnya ganjaran yakni apa saja yang diminta pertanggungjawabannya pada seorang mukalaf sehingga ia mendapatkan pahala atau berhak untuk mendapatkan hukuman? Untuk kejelasan urusan ini sudah seharusnya kita memperhatikan apa saja yang datang dari Sunnah Nabawiyah as-Syarifah yang terkait dengan topik ini: Continue reading

Keimanan Seorang Muqallid dan Murtab

Published by:

Muqallid di sini maksudnya adalah orang yang memeluk agama karena agama tersebut adalah agama orang tuanya, kerabatnya, dan penduduk negerinya. Tidak ada padanya hujah atas kebenaran aqidahnya. Yakni sesungguhnya keimanannya itu adalah semata – mata warisan tanpa hujah dan tanpa bukti.

Murtab (orang yang ragu – ragu) adalah orang yang berkata: aku meyakini Islam dan mengikuti orang – orang Islam sebagai kehati – hatian bagi diriku. Apabila Islam itu benar maka aku termasuk orang – orang yang menang. Namun bila Islam itu tidak benar sama sekali maka hal itu tidak akan membahayakanku. Continue reading

As-Sa’adah (Kebahagiaan) dan As-Syaqawah (Kecelakaan)

Published by:

Telah dibahas sebelumnya bahwasanya ilmunya Allah ta’ala itu qadim (dahulu) dan meliputi sesuatu sebelum terjadinya. Sudah seharusnya sesuatu itu terjadi sebagaimana Allah ketahui. Dari yang demikian itu: bahwasanya Allah ta’ala mengetahui sejak azali (dahulu) orang – orang yang bahagia dan orang – orang yang celaka. Yang dimaksud dengan orang – orang yang bahagia adalah orang – orang yang mati di atas keimanan, dan yang dimaksud dengan orang – orang yang celaka adalah orang – orang yang mati dalam keadaan kafir. Akan tetapi Allah ta’ala tidak mengazab keduanya berdasar atas ilmu-Nya sebelum terjadi yang diketahui-Nya. Bahkan Allah memberi keduanya kesempatan hingga nampak terwujud, nampak keimanan dari orang – orang yang bahagia hingga ia mati atasnya dan nampak kekufuran dari orang – orang yang celaka hingga ia mati atasnya. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Lafadz – Lafadz Keimanan

Published by:

Masuk ke dalam agama Islam menuntut adanya ucapan dua kalimat syahadat yaitu:

شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah”

Demikian pula dengan berlepas diri dari agama yang sebelumnya juga dituntut dengan adanya dua kalimat syahadat ini. Bila seseorang datang dengan ucapan yang semakna dengannya, maka dapat dikatakan bahwa terdapat keimanan padanya meskipun tanpa kalimat tersebut yang telah diketahui secara umum. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala: Continue reading

Pemenuhan Janji dan Ancaman Allah

Published by:

Sungguh Allah ta’ala telah menjanjikan bagi orang – orang yang sholih pahala dan surga sedangkan bagi orang – orang yang kafir dan berbuat maksiat Allah mengancamnya dengan neraka. Bukti – bukti akan hal ini sangatlah banyak di dalam Kitabullah dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah mantap di dalam diri – diri kaum mu’minin bahwasanya surga adalah bagi orang – orang yang taat dan neraka disediakan bagi orang – orang yang bermaksiat dan bagi orang -orang yang kafir. Akan tetapi para ulama’ menimbulkan dua masalah syar’i (yakni dilandaskan pada kaidah – kaidah syar’iyah bukan pada kaidah -kaidah aqliyah), mereka berkata: Continue reading