Category Archives: Aqidah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – Makna Iman

Published by:

Makna iman secara Bahasa adalah at-tashdiq (pembenaran), at-tashdiq itu sendiri adalah ketundukan terhadap hukumnya, menerimanya, dan mengakuinya. Kata iman diambil dari kata al-amnu (aman) yang merupakan lawan kata dari al-khauf (takut). Hal ini karena siapa yang mempercayai terhadap suatu hukum maka ia selamat dari pendustaan atau ingkar kepadanya. Maka ketika kita katakan: (Muhammad Rasulullah) artinya kita berhukum dengan risalahnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, barangsiapa yang membenarkan dan tunduk terhadap hukum ini maka ia telah beriman/mukmin dengannya.

Adapun makna iman secara istilah ahli syariat adalah apa – apa yang menyelamatkan orang yang mempercayainya dari kekekalan di dalam api neraka dan memperoleh kemenangan dengan berada di surga selama – lamanya walaupun pernah diadzab di neraka dalam beberapa masa. Untuk mengetahui makna yang dalam mengenai keimanan ini kami perlihatkan gambaran keadaan manusia secara nyata, dengan menyebutkannya secara kontradiktif sehingga tampak perbedaan segala sesuatunya sebagai berikut: Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Adalah Kewajiban yang Pertama

Published by:

Kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf adalah mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah) yakni mengetahui sifatNya yang mulia dan agung. Maka wajib bagi mukallaf untuk mengetahui bahwasanya Allah itu ada, Dia lah yang menciptakan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya, tidak akan ada sesuatu kalaulah bukan karena Dia yang Maha Mulia dan Maha Agung. Seorang mukallaf wajib untuk mengetahui bahwasanya Allah disifati dengan seluruh sifat yang sempurna yang layak bagi kemuliaan dan keagungannya dan menjauhkan segala sifat kekurangan yang tidak layak. Keyakinan – keyakinan (Al-Aqoid) ini dapat diketahui dari Al-Qur’an al-Karim, As-Sunnah yang disucikan, serta dari hal – hal yang mutawatir di antara kaum muslimin. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Hukum Taqlid Dalam Masalah Aqidah

Published by:

Taqlid dalam masalah aqidah adalah: mengikuti orang lain pada apa – apa yang diyakini tanpa mengetahui dalil yang digunakan untuk meyakininya. Adapun ketika seseorang mengetahui dalilnya dan merasa puas dengan dalil tersebut, maka ia bukanlah seorang muqallid (orang yang taqlid) dalam masalah aqidah. Orang yang setuju dengan orang yang lain dalam aqidahnya yang dibangun atas dalil khusus yang digalinya juga bukanlah seorang muqallid dalam masalah aqidah.

Kemudian, seorang muqallid itu ada yang jazm (tetap) yaitu dari sisi apabila orang yang ia ikuti kembali kepada aqidah sebelumnya, muqallid tersebut tidak mengikutinya. Muqallid ada juga yang ghairu jazm (tidak tetap) yaitu dari sisi apabila orang yang ia ikuti kembali kepada aqidah sebelumnya, muqallid tersebut juga kembali kepada aqidah sebelumnya, mengikuti orang yang ia taqlid kepadanya. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Aqidah/Keyakinan yang Wajib Diyakini Oleh Mukallaf

Published by:

Mukallaf (seseorang yang dibebani tanggung jawab) dalam pandangan ulama’ Syariah Islamiyah adalah: manusia yang dituntut untuk mengerjakan perintah – perintah syariat dan meninggalkan apa yang dilarang oleh syariat yang mulia. Baginya balasan dan pahala atas ketaatan, dan ditimpakan kepada dirinya uqubat/hukuman jika menentangnya. Mukallaf adalah orang yang telah sempurna pada dirinya tiga sifat: baligh, berakal, dan telah sampai dakwah Islamiyah kepadanya.

  1. Baligh: adalah kematangan secara badan. Tanda – tandanya yang dikenal di sisi para dokter dan ahli fiqh yang paling penting yaitu mimpi basah, yakni keluarnya mani, ini pada laki – laki maupun perempuan, dan haid pada perempuan saja. Maka kapan saja tanda – tanda ini tampak pada manusia maka ia telah baligh berapapun umurnya. Ketika tidak tampak tanda – tandanya hingga berusia lima belas tahun dengan hitungan tahun qamariyah, maka ia dianggap telah baligh. Yang demikian itu karena aqal dan kesadaran tidak sempurna sebelum ia baligh. Akan tetapi bagi wali anak kecil hendaknya mengajarkannya kaidah – kaidah aqidah Islamiyah dengan kadar yang layak dengan kondisi anak tersebut, juga memerintahkannya shalat dan ibadah serta menjelaskan kepadanya halal dan haram yang dihadapi dalam kehidupan sehari – harinya.
  2. Aqal: kemampuan untuk memahami perkataan, maka orang yang gila bukanlah mukallaf. Orang bodoh yang tidak memahami makna apa yang dikatakan kepadanya bukanlah mukallaf, akan tetapi diajari sebagaimana anak kecil diajari sesuai dengan kondisinya.
  3. Sampainya dakwah yaitu: dia mengetahui bahwasanya Allah ta’ala telah mengutus seorang Rasul kepada manusia namanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan adalah beliau disifati dengan sifat – sifat yang mulia, telah ditegakkan hujjah bahwasanya dia adalah Rasulullah dengan jelasnya mukjizat yang ada di tangannya. Beliau menyeru kepada manusia agar beriman kepada Allah semata tiada sekutu baginya dan agar mentaati perintah – perintah-Nya. Maka siapa saja yang tidak sampai kepadanya dakwah ini maka dia tidak dituntut untuk beriman dan tidak diadzab atas kekafirannya, mereka adalah orang – orang yang termasuk ahlul fitrah yakni orang – orang yang meninggal sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak sampai kepada mereka dakwah nabi – nabi sebelumnya. Demikian pula orang – orang yang terlahir buta dan tuli, maka tidak mungkin baginya untuk mengetahui diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu tidak dihitung sebagai seorang mukallaf karena dakwah tidak sampai kepadanya. Dalil atas disyaratkannya sampainya dakwah adalah firman Allah ta’ala:

Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Hukum Tentang Ilmu Ushulluddin (Pokok – Pokok Agama)

Published by:

Ilmu adalah pengetahuan mengenai hakikat sesuatu. Maka barangsiapa misalnya meyakini bahwasanya sholat dhuhur itu empat rakaat maka sungguh dia telah mengetahui hukum syar’i tersebut. Barangsiapa yang tidak mengetahui jumlah rakaat sholat dhuhur maka dia jahil (tidak tahu) terhadap hukum tersebut. Akan tetapi tingkat kejahilannya adalah basith (sederhana) yakni tidak berlipat – lipat. Barangsiapa yang meyakini bahwasanya sholat dhuhur itu tiga rakaat maka dia jahil terhadap hukum tersebut jahil yang murakkab (kebodohan yang rangkap) yakni kebodohan yang berlipat – lipat, karena ia bodoh namun tidak menyadari bahwa ia bodoh.

Barangsiapa yang meyakini bahwasanya Allah ta’ala pencipta segala sesuatu maka dia ‘Alim (berpengetahuan) terhadap masalah tersebut. Barangsiapa yang mengatakan: saya tidak tahu siapa yang menciptakan segala sesuatu, maka dia jahil terhadap masalah tersebut dengan kejahilan yang tidak berlipat – lipat. Barangsiapa yang meyakini bahwasanya segala sesuatu terwujud dari tiada wujud maka dia dalam hal ini jahil murakkab atau bodoh yang berlipat – lipat.

Ushuluddin Islami: adalah keyakinan – keyakinan yang berdiri di atasnya agama Islam ini. Maksud dari keyakinan – keyakinan di sini adalah hal – hal yang dibenarkan oleh seorang muslim dengan pembenaran yang pasti (tashdiqan jaziman). Sama saja apakah dalilnya adalah qath’I (pasti) atau dhanni (dugaan atau di bawah derajat pasti). Adapun perkataan sebagian ulama: “Sesungguhnya dalam masalah aqidah tidak diterima kecuali dalil yang mutawatir (qath’i)”, sesungguhnya yang dimaksud dengan aqidah dalam kaidah ini adalah apa – apa yang menjadikan seseorang kafir ketika mengingkarinya. Akan kami sampaikan penjelasan mengenai kaidah ini insya Allah ta’ala pada penjelasan makna al-iman. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Siapakah Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam?

Published by:

Siapakah Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam?

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mereka yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mukmin dan meninggal dalam keadaan mukmin. Ini adalah definisi sahabat menurut muhadditsin (para ahli hadits). Maka setiap orang yang bertemu dengan Nabi dalam hidupnya dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beriman maka dia adalah sahabat dan memperoleh kemuliaan seorang sahabat dan dia tsiqah (terpercaya) pada riwayat – riwayatnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah – Siapakah Keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam?

Published by:

Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: istri – istri beliau dan setiap orang mukmin dari kerabatnya: yaitu mereka keturunan Hasyim dan al-Muthallib ibnu ‘Abdi Manaf. Hasyim adalah bapaknya kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Al-Muthallib adalah saudara Hasyim. Dengan demikian diharamkan shadaqah bagi Bani Hasyim dan Bani Muthallib untuk memuliakan mereka karena kekerabatan mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersholawat kepada keluarga beliau ketika kita bersholawat kepadanya. Para sahabat telah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka berkata: Continue reading