Cabang – Cabang Keimanan

Tags: ,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

بِضْعٌ
Adalah sebuah kata yang digunakan untuk menunjukkan jumlah antara 3 hingga 10. Kita katakan:

في السفينة بضعة رجال

“Di dalam kapal terdapat beberapa orang laki -laki”. Bisa jadi ada tiga orang atau lebih seperti tujuh orang atau sembilan orang dalam kapal tersebut. Allah ta’ala berfirman:

فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” QS. Yusuf: 42.

Para ahli tafsir berkata: Yusuf berada di dalam penjara selama tujuh tahun.

وَالْحَيَاءُ
Artinya adalah “malu”, secara bahasa maknanya adalah rasa takut atau khawatir akan suatu cela yang menimpanya. Secara syar’i makna malu adalah akhlak yang mulia yang membangkitkan diri untuk menghindari perbuatan – perbuatan yang buruk baik itu perkataan maupun perbuatan.

شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Artinya adalah “bagian dari iman”, yakni salah satu cabang yang agung dari cabang – cabang keimanan yang memancar dari akhlak seorang mu’min yang benar dalam keimanannya. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hakikat malu ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits dari Ibnu Mas’ud beliau berkata:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Malulah pada Allah dengan sebenarnya.” Berkata Ibnu Mas’ud: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami malu, alhamdulillah. Beliau bersabda: “Bukan itu, tapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah kau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut beserta isinya, mengingat kematian dan segala kemusnahan. Barangsiapa menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Maka barangsiapa yang melakukannya sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar – benarnya malu.” HR. At-Tirmidzi.

Faedah Hadits

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan keimanan dengan pohon besar yang memiliki cabang – cabang atau ranting – ranting. Cabang – cabangnya banyak, dan salah satunya adalah malu yang merupakan kebaikan seluruhnya. Malu tidak datang kecuali dengan kebaikan. Oleh karena itu terdapat sebuah hadits:

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” HR. Bukhari.

2. Dalam riwayat Bukhari disebutkan redaksi haditsnya adalah:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang”.

Dalam riwayat Muslim:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAH (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.”

Jika dikatakan: mengapa malu itu disebutkan secara khusus daripada cabang -cabang keimanan lainnya yang sangat banyak jumlahnya? Jawabannya: sesungguhnya malu itu adalah akhlak yang menyeru kepada seluruh keutamaan – keutamaan. Sesungguhnya manusia itu takut terbuka aibnya di dunia dan mendapatkan adzab di akhirat. Maka dengan malu itulah ia dijauhkan dari maksiat dan melakukan ketaatan – ketaatan yang diperintahkan oleh Allah ta’ala. Oleh karena inilah malu itu disebutkan secara khusus dalam hadits tersebut.

At-Thibi berkata: sesungguhnya malu itu disebutkan secara khusus setelah masuk dalam cabang – cabang keimanan sebagai isyarat banyaknya cabang – cabang keimanan. Seolah – olah beliau berkata: cabang ini adalah satu cabang saja, maka apakah engkau dapat menghitung cabang – cabangnya seluruhnya? Mustahil, mustahil, sesungguhnya laut itu tidak mungkin diciduk seluruhnya.

Perhatian Penting

Di dalam hadits itu terdapat isyarat bahwa kedudukan – kedudukan keimanan itu berbeda -beda. Kedudukan yang paling tinggi adalah kedudukan tauhid yang merupakan pokok atau pondasi dari seluruh amal – amal dari sisi tidak diterimanya amal seseorang hingga ia memurnikan aqidahnya dan memperbaiki keimanannya. Sedangkan kedudukan cabang keimanan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

Wallahu ‘alam bi as-shawwab.

Disarikan dari Syarah al-Muyassar Li Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Muhammad ‘Ali As-Shabuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *