Bersiwak (Menggosok Gigi)

Disukai untuk bersiwak dalam setiap keadaan kecuali setelah waktu zawal (bergesernya matahari dari tengah – tengah / masuk waktu zhuhur) bagi orang yang sedang berpuasa.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak menjadikan mulut bersih, dan mendapat ridha Allah.” (HR. an-Nasa’I, Iman an-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini hadits shahih).

Siwak adalah alat yang digunakan untuk menggosok gigi. Sunnahnya bersiwak ini dengan menggunakan segala sesuatu yang kasar yang digunakan untuk membersihkan kotoran sedangkan menggunakan kayu pohon Arok untuk bersiwak yang dikenal dengan kayu siwak adalah lebih afdhal.

Pengecualian tidak disunnahkannya siwak bagi orang yang berpuasa setelah masuk waktu dzhuhur adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. (HR. Bukhari & Muslim).

Al-khuluf dalam hadits tersebut maknanya adalah berubahnya bau mulut, bagi orang yang berpuasa bau mulutnya tidak akan berubah kecuali setelah melewati waktu dzhuhur. Bersiwak setelah waktu dzhuhur tentunya akan menghilangkan bau mulut orang yang berpuasa sehingga hal tersebut merupakan hal yang tidak disukai.

Bersiwak sangat disukai pada tiga kondisi berikut ini:

1. Berubahnya bau mulut karena diam yang lama, karena tidak makan dan tidak minum, karena makan makanan yang menyebabkan bau mulut yang sangat, dan sebab – sebab lainnya.

2. Setelah bangun tidur. Dari Hudzaifah beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.” (HR. Bukhari & Muslim).

3. Ketika akan melaksanakan shalat. Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Sekiranya tidak menyusahkan kaum mukminin, -dan dalam hadits Zuhair- atas umatku, niscaya akan aku suruh mereka untuk bersiwak pada setiap (akan) shalat.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maraji’:

  1. At-Tadzhib fii Adillat Matan al-Ghayah wa at-Taqrib. Dr. Musthafa Diib al-Bugha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *