Bagian Dari Iman Adalah Mencintai Sesuatu Untuk Saudaranya Sebagaimana Ia Mencintainya Untuk Dirinya Sendiri

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadznya

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
Artinya “Tidaklah beriman seseorang dari kalian” yakni tidaklah sempurna keimanan seorang manusia hingga ia mencintai sesuatu bagi saudaranya yang muslim apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri dari seluruh bentuk kebaikan baik itu yang berupa manfaat maupun menolak bahaya.

Dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan redaksinya sbb:

حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ الْخَيْرِ

“Hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.”

An-Nawawi berkata: asalnya mahabbah (cinta) adalah kecenderungan kepada apa saja yang sesuai dengan orang yang mencintainya. Kemudian rasa cinta ini ada pada apa saja yang dapat dinikmati dengan panca indera seperti indahnya penampilan, dan pada apa saja yang dapat dinikmati dengan akal seperti cinta pada keutamaan dan keelokan. Cinta itu ada disebabkan oleh adanya kebaikan dan menolak sesuatu yang membahayakan. Maksudnya (hadits ini) adalah ia memperlakukan saudaranya yang mu’min sepadan dengan apa yang ia lakukan bagi dirinya sendiri berupa kebaikan, manfaat, dan menutupi aib – aib. Cinta ini adalah karena Allah dan di jalan Allah, tidak karena urusan duniawiyah sebagaimana hadits:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.” HR. Abu Dawud.

Hadits ini dan hadits sebelumnya disebutkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya untuk menjelaskan bahwa keimanan itu tidak semata – mata membenarkan dan meyakini adanya Allah dan ke-EsaanNya saja. Sesungguhnya keimanan itu adalah ikrar dengan lisan, meyakini dengan hati, dan beramal dengan anggota – anggota badan. Sesungguhnya keimanan itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan amal – amal sholih dan berkurang dengan kemaksiatan -kemaksiatan dan keburukan – keburukan.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Disarikan dari Syarah al-Muyassar Li Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Muhammad ‘Ali As-Shabuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *