Daily Archives: September 1, 2018

Doa Keluar Rumah

Published by:

Dari Ummi Salamah beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah keluar dari rumah kecuali beliau melihat ke langit seraya berdoa:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau dibodohi.” Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan yang lainnya. Continue reading

Hadits Hasan Li Ghairihi

Published by:

1. Definisinya:

Hadits hasan li ghairihi adalah hadits dhaif yang memiliki banyak jalan periwayatan serta sebab kedhaifannya tidaklah karena perawinya fasik atau pendusta.

Dari definisi tersebut terdapat faidah bahwasanya hadits dhaif naik derajatnya menjadi hasan lighairi dengan dua sebab yaitu:

A. Diriwayatkan dari jalur lain sehingga banyak jalur periwayatannya, jalur lain tersebut semisal dengan jalurnya atau lebih kuat darinya.

B. Sebab dhaifnya hadits itu karena buruknya hafalan perawinya, terputusnya sanad, atau tidak diketahuinya salah satu perawinya.

2. Sebab dinamakannya hadits hasan li ghairihi:

Sebab dinamakannya hadits ini dengan sebutan itu adalah bahwasanya kehasanan hadits tersebut tidak datang dari sanad yang pertama melainkan karena bergabungnya sanad tersebut dengan sanad lainnya.

Naiknya derajat hadits dhaif kepada derajat hasan lighairihi dapat kita gambarkan dengan persamaan berikut ini:
Dhaif + dhaif = hasan li ghairihi.

3. Derajatnya:

Hadits hasan li ghairi kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan hadits hasan li dzatihi. Selayaknya bila hadits hasan li dzatihi bertentangan dengan hadits hasan li ghairihi maka hadits hasan li dzatihi didahulukan.

4. Hukumnya:

Hadits hasan li ghairihi dapat diterima sebagai hujah.

5. Contoh hadits hasan li ghairihi

Hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beliau menghasankannya dari jalur Syu’bah, dari ‘Ashim bin Ubaidillah, dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dari bapaknya:

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ

“Bahwa ada seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu rela atas diri dan hartamu dengan dua sandal ini?” Dia menjawab; “Ya.” (‘Amir bin Rabi’ah) berkata; (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) membolehkannya.”

At-Tirmidzi berkata: “Hadits semakna diriwayatkan dari Umar, Abu Hurairah, Sahl bin Sa’ad, Abu Sa’id, Anas, ‘Aisyah, Jabir dan Abu Hadrad Al-Aslami.

Ashim adalah perawi dhaif karena buruknya hafalannya, sungguh at-Tirmidzi menghasankan hadits ini karena ia datang tidak dari satu jalur saja.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Mahmud Ahmad Thahhan. Taisir Musthalah al-Hadits.