Daily Archives: June 29, 2017

Al-Quran Bukan Karangan Nabi Muhammad

Published by:

Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mentadaburi Al-Qur’an serta memahami makna – maknanya yang jelas dan lafadz – lafadznya yang fasih. Allah mengabarkan kepada kita bahwasanya tidak terdapat perbedaan di dalam Al Qur’an, tidak pula terdapat kegoncangan dan pertentangan karena Al Qur’an itu diturunkan dari Yang Maha Bijak lagi Maha Terpuji, Al-Quran adalah haq berasal dari Allah yang haq. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Hoax Di Masa Rasulullah

Published by:

Imam Muslim dalam sebuah hadits yang panjang meriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab beliau berkata: ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan istri – istrinya (karena mereka protes meminta nafkah), aku masuk ke dalam masjid dan mendapati manusia sedang memain – mainkan batu kerikil, mereka berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istri – istrinya. Umar tidak percaya dengan hal tersebut.
Singkat cerita Umar kemudian menemui Aisyah dan Hafshah untuk klarifikasi namun buntu. Akhirnya Umar pun menemui Rasulullah langsung dan menanyakannya. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa beliau tidak menceraikan mereka. Kemudian Umar berdiri di atas pintu masjid dan berteriak dengan lantang bahwa Nabi tidak menceraikan istri – istrinya. Kemudian turunlah ayat berikut ini: Continue reading

Syukur dan Sabar Pakaian Orang Beriman

Published by:

Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” HR. Muslim.

Syafaat Hasanah dan Syafaat Sayyiah

Published by:

Barangsiapa yang mengusahakan suatu urusan, kemudian menghasilkan sesuatu yang baik, maka ia mendapatkan bagian darinya karena memenangkan yang haq atas yang batil. Barangsiapa yang mengusahakan sesuatu urusan keburukan, maka baginya dosa dari apa – apa yang dihasilkan atas keburukan tersebut dan juga dari niatannya. Allah ta’ala berfirman:

(مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا)
Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS. An-Nisa’ 85. Continue reading

Meninggalkan Yang Meragukan

Published by:

Dari Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma: aku menghafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu maka sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits haasan shahih.

Hadits ini adalah hadits yang sangat penting, salah satu pintu dari pintu – pintu wara’ dan kehati – hatian. Para ahli ilmu telah memasukkan pembahasan ini ke dalam bab – bab fiqih, mereka mengambil hadits ini dari sisi kehati – hatiannya. Sangat banyak sekali pembahasan para ahli ilmu mengenai hal ini, di antaranya adalah:

Apabila pakaian seseorang terkena najis, namun ia tidak tahu persis bagian manakah dari pakaiannya yang terkena najis. Apakah bagian awalnya ataukah bagian akhirnya. Apabila ia mencuci bagian yang awal, ia menjadi ragu karena bisa jadi yang terkena najis itu sebenarnya adalah bagian yang akhir. Lalu bagaimana sikap kehati – hatian dalam hal ini? Kehati – hatian dalam hal itu adalah dengan mencuci seluruh pakaian tersebut baik bagian yang awal maupun yang akhir hingga hilanglah keraguannya dan ia pun dalam perasaan tenang.

Contoh lain lagi: apabila seseorang ragu dalam sholatnya, apakah ia telah sholat dua rakaat atau tiga rakaat? Maka dalam hal ini, ia harus beramal dengan yang tidak ada keraguan padanya yaitu mengambil jumlah rakaat yang sedikit. Karena bisa jadi sebenarnya dia baru mengerjakan dua rakaat, kalau dia menganggap sudah mengerjakan tiga rakaat maka akan kurang jumlah rakaatnya. Namun bila ia sebenarnya memang baru mengerjakan dua rakaat, berarti sudah pas jumlahnya dan hal ini menghilangkan keraguan.

 

 

 

 

Tebarkanlah Salam

Published by:

Allah ta’ala telah mengajarkan kepada manusia mengenai bagaimana memberikan penghormatan (tahiyyat) dan adab – adabnya. Allah ta’ala berfirman:

(وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا)

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. QS. An-Nisa’ 86.

Tahiyyat itu asalnya adalah doa untuk kehidupan. Sementara tahiyyatu lillah (tahiyyah bagi Allah) adalah lafadz – lafadz yang menunjukkan kepada kekuasaan Allah serta memanggil Allah ta’ala dengan lafadz – lafadz tersebut. Adapun makna tahiyyat yang shahih adalah ucapan salam. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

Continue reading

Bertakwalah Kepada Allah di Mana Saja

Published by:

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits hasan shahih.

Bertakwalah kepada Allah ta’ala yaitu dengan melaksanakan perintah – perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya di manapun kita berada. Baik itu dilihat oleh manusia ataupun tidak dilihat oleh manusia. Baik itu di dunia nyata ataupun di dunia maya, tetap saja kita harus bertakwa kepada Allah ta’ala. Dengan berada di dunia maya misalnya, bukan berarti lantas kita boleh berbicara sebebas – bebasnya meskipun melanggar syariat, apa yang kita tulis dan kita sampaikan di dunia maya pun harus senantiasa sesuai dengan perintah Allah. Siapa kita di dunia maya, itulah kita yang sebenarnya.

Salah satu faidah hadits ini adalah bahwasanya amal – amal kebaikan itu dapat menghapuskan catatan – catatan keburukan yang kita lakukan. Dikatakan juga bahwa penghapusan catatan keburukan tersebut adalah yang berkaitan dengan dosa – dosa kecil. Adapun yang berkaitan dengan dosa – dosa besar maka harus melakukan taubat serta memenuhi syarat – syarat taubatnya. Disamping itu juga, dosa – dosa tersebut tidak berkaitan dengan hak – hak manusia sebab dosa terhadap sesama manusia hanya dapat dihapuskan dengan meminta maaf dan menyelesaikannya secara langsung kepada orang yang pernah diambil hak nya. Wallahu ‘alam bis-showwab.