Daily Archives: June 27, 2017

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Published by:

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah pada umat sebelumku melainkan dia memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunah-sunnah dan mengikuti perintah-perintahnya, kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan meski hanya sebesar biji sawi.” HR. Muslim.

Bahasa Hadits: Continue reading

Sunnah Ab’adh Dalam Sholat

Published by:

Sunnah ab’adh menurut madzhab Syafi’i adalah sunnah dalam sholat yang dapat ditutupi dengan sujud sahwi. Sunnah ab’adh tersebut adalah qunut dalam sholat subuh atau dalam sholat witir pada setengah bulan ramadhan yang akhir dan tasyahud awal.

Dinamakan dengan sunnah ab’adh (ab’adh secara bahasa maknanya adalah bagian – bagian) karena ketika diganti ataupun ditutupi dengan sujud sahwi, yang diganti tersebut menyerupai bagian dari rukun sholat secara hakiki. Adapun sunnah – sunnah sholat selain sunnah ab’adh dinamakan dengan sunnah haiat yang tidak ditutupi dengan sujud sahwi bila lupa tidak mengerjakannya dan tidak disyariatkan untuk menggantinya dengan sujud sahwi. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Mukholafat Li al-Hawadits (Berbeda dengan yang baru ada)

Published by:

Al-hawadits (الحواديث) adalah segala sesuatu selain Allah ta’ala dan telah kita tetapkan pada pembahasan – pembahasan sebelumnya bahwa selain Allah ta’ala adalah haadits (حادث) atau baru atau ada awalnya dan makhluknya Allah azza wa jalla. Maka Dzatnya Allah ta’ala tidaklah seperti dzatnya makhluk – makhluk-Nya. Setiap sifat dari sifat – sifatnya tidak seperti sifat – sifat makhluk – makhluk-Nya. Setiap perbuatan-Nya tidaklah seperti perbuatan makhluk – makhluknya. Allah subhanahu wa ta’ala berbicara mengenai dirinya sendiri: Continue reading

Terang – Terangan Dalam Perkataan Buruk

Published by:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berkaitan dengan ucapan buruk yang diucapkan dengan terus terang:

(لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا)

“Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. An-Nisa’ : 148.

Hanad bin Sirriy mengeluarkan sebuah riwayat dari Mujahid beliau berkata: ayat berikut ini

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizhalimi. QS. An-Nisa’ : 148.

diturunkan mengenai seorang laki – laki yang bertamu ke rumah seorang laki – laki Madinah dan mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Ia lalu pergi ke rumah yang lain dan menceritakan apa yang dialaminya. Maka ia diberi rukhshoh untuk menceritakan perlakuan buruk yang dialaminya. Ayat ini turun sebagai rukhshoh dalam hal pengaduan. Riwayat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Juraij. Continue reading

Beratnya Balasan Bagi Orang Yang Beramar Ma’ruf Nahi Munkar Namun Dia Sendiri Menyelisihinya

Published by:

Dari Abi Zaid Usamah bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Aku mendengat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: ‘Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ‘ Ia menjawab: ‘Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya’.” HR. Bukhari dan Muslim.

Faedah Hadits: Continue reading

Sunnah Sunnah Sholat (1)

Published by:

1. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram.

2. Mengangkat kedua tangan ketika akan ruku’.

3. Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari ruku’.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH’, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU’. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading