Kezhaliman di Bawah Kezhaliman

Dari ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ
{ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }
قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

“Ketika turun ayat: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman” (QS. Al-An’am: 82), para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah diantara kami yang tidak berbuat zhalim? Maka Allah ‘azza wajalla menurunkan (firman-Nya): “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13). HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

Continue reading

Tafsir Surat Quraisy

Surat ini adalah surat Makkiyah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ لِإِیلَـٰفِ قُرَیۡشٍ * إِۦلَـٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَاۤءِ وَٱلصَّیۡفِ * فَلۡیَعۡبُدُوا۟ رَبَّ هَـٰذَا ٱلۡبَیۡتِ * ٱلَّذِیۤ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعࣲ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” QS. Quraisy: 1-4.

Dalam Mushaf Imam (mushafnya Ustman bin Affan) surat ini terpisah dari surat sebelumnya. Mereka menuliskan di antara keduanya (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) meskipun ada kaitannya dengan sebelumnya sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad bin Ishaq dan Abdurrahman bin Yazid karena maknanya menurut keduanya adalah: kami tahan pasukan gajah itu dari Makkah dan kami celakakan pemiliknya karena kebiasaan orang Quraisy yakni kebiasaan mereka dan berkumpulnya mereka di negeri mereka dengan aman.

Continue reading

Bila Dua Kelompok Orang Beriman Berperang Maka Damaikanlah

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka”. aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya”. HR. Bukhari.

Sebab Disebutkannya Hadits Ini

Continue reading

Tafsir Surat Al-Ma’un

Surat ini adalah surat Makkiyah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ أَرَءَیۡتَ ٱلَّذِی یُكَذِّبُ بِٱلدِّینِ * فَذَ ٰ⁠لِكَ ٱلَّذِی یَدُعُّ ٱلۡیَتِیمَ * وَلَا یَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِینِ * فَوَیۡلࣱ لِّلۡمُصَلِّینَ * ٱلَّذِینَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ * ٱلَّذِینَ هُمۡ یُرَاۤءُونَ * وَیَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’, dan enggan (memberikan) bantuan.” QS. Al-Ma’un: 1-7.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: {Tahukah kamu} wahai Muhammad {(orang) yang mendustakan agama?} Yaitu mendustakan kehidupan akhirat dan hari pembalasan. {Maka itulah orang yang menghardik anak yatim} yaitu orang yang menguasai anak yatim namun tidak memberinya makan dan tidak memperlakukannya dengan baik.

Continue reading

Perbuatan Maksiat Merupakan Kebiasaan Jahiliyah

Dari Al Ma’rur bin Suwaid beliau berkata:

لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

“Aku bertemu dengan Abu Dzar di Rabadzah. Beliau mengenakan pakaian dua lapis dan hamba sahayanya juga mengenakan pakaian dua lapis. Maka aku bertanya mengenai yang demikian itu. Abu Dzar menjawab, ‘Aku pernah memaki seseorang dengan menghina ibunya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memaki dia dengan menghina ibunya? Sesungguhnya dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah. Para hamba sahayamu adalah saudara-saudaramu yang Allah titipkan di bawah tanggungjawabmu. Oleh karena itu, barangsiapa memiliki hamba sahaya, hendaklah diberikan makanan sebagaimana yang ia makan dan diberi pakaian sebagaimana yang ia pakai serta janganlah mereka dibebani dengan pekerjaan yang berada di luar kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka maka bantulah mereka.” HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadznya

Continue reading

Tafsir Surat Al-Kafirun

Surat ini adalah surat Makkiyah.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ * لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ * وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ * وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ * وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ * لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” QS. Al-Kafirun: 1-6.

Keutamaan Surat Al-Kafirun

Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat ini (Al-Kafirun) dan surat Al-Ikhlas dalam dua rakaat thawaf.

Continue reading

Pengingkaran Terhadap Suami Dan Kufur Yang Tidak Kafir

Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka mengingkari”. Ditanyakan: “Apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau bersabda: “Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: ‘aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”. HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

Continue reading