Hadits Mu’dhal

Published by:

1. Definisinya
A. Secara bahasa: مُعْضَل adalah isim maf’ul (kata benda yang menunjukkan pengertian yang dikenai pekerjaan) dari أَعْضَلَهُ dengan makna أَعْيَاهُ (meletihkannya atau melemahkannya).

B. Secara istilah: hadits mu’dhal adalah hadits yang terputus dua sanadnya atau lebih secara berturut – turut.

2. Contoh hadits mu’dhal Continue reading

Syarat Wajib Zakat Pertanian

Published by:

Zakat atas tanam – tanaman pertanian diwajibkan dengan tiga syarat:

1. Tanaman itu adalah dari apa yang ditanam oleh manusia.

2. Merupakan bahan makanan (القوت) yang dapat disimpan.

Yakni memungkinkan untuk menyimpannya tanpa merusaknya. (القوت) adalah makanan pokok pada umumnya bagi penduduk negeri. Maksudnya adalah gandum, jerawut, buncis, kacang, dan yang semisal dengan itu.

3. Mencapai nishob yaitu lima wasaq (kurang lebih setara 715 kg) tanpa kulitnya. Penjelasan detil beserta dalilnya akan kami bahas lebih lanjut pada pembahasan mengenai nishob – nishob zakat.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa Diib. At-Tadzhib fii Adillat Matan al-Ghayah wa at-Taqrib.

Mukjizat Para Rasul

Published by:

Allah ta’ala mengutus para Rasul itu dengan bukti – bukti yang nyata dan menguatkannya dengan mukjizat. Mukjizat adalah perkara – perkara yang terjadi diluar kebiasaan untuk menegakkan kebenaran dan sebagai bukti mutlak bagi manusia bahwasanya setiap Rasul itu adalah benar – benar utusan Allah. Di samping itu Allah juga membersihkan para Rasul ‘alaihimussalam dari dusta dan mengada – adakan apa saja yang tidak diturunkan kepada mereka berupa wahyu ilahi. Sebab yang demikian itu (dusta dan mengada – ada) termasuk kejahatan yang tidak diperbolehkan dan tidak dapat dipahami bisa muncul dari seorang Rasul yang haq. Allah ta’ala berfirman dengan memberikan permisalan dan pengandaian:

وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِیلِ * لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡیَمِینِ * ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِینَ

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. QS. Al-Haqqah: 44-46. Continue reading

Santri Selamanya

Published by:

Jadilah santri selamanya
Senantiasa menambah ilmu
Meski kadang di sela – sela waktu

Jadilah santri selamanya
Hadir mengaji ilmu agama
Di hadapan para ulama

Jadilah santri selamanya
Sabar mengaji kitab – kitab dasar tipis
Namun isinya berlapis – lapis Continue reading

Mengumpulkan Antara al-Khouf (Takut Kepada Allah) dan ar-Roja’ (Mengharap Kepada Allah)

Published by:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

“Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya tidak ada seorang mu’min pun yang mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah, maka niscaya tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surga-Nya.” HR. Muslim.

Faidah Hadits Continue reading

Kenabian Adalah Keutamaan Dari Allah

Published by:

Definisi kenabian secara syar’i adalah ketika Allah ta’ala memberi wahyu kepada seorang laki – laki berupa hukum syar’i taklifi (beban syariat kepadanya) sama saja apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya ataukah tidak. Kenabian ini adalah keutamaan dari Allah ta’ala, Dia memberikannya kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba – hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman:

ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَیۡثُ یَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” QS. Al-An’am: 124.

Kenabian ini telah ditutup dengan kenabian sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Continue reading

Sam’iyyat (Apa Saja Yang Disandarkan Kepada Wahyu)

Published by:

Aqidah – aqidah atau keyakinan – keyakinan yang dibahas pada bagian ini disimpulkan dari Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah Syarifah. Apa saja yang dalilnya qath’i – yakni ayat atau hadits mutawatir yang tidak mengandung makna kecuali hanya satu makna saja – maka iman terhadapnya adalah wajib dan mendustakannya adalah kafir. Apa saja yang dalilnya tidak qath’i – yakni ayat atau hadits mutawatir yang memiliki lebih dari satu makna atau hadits shahih dan hasan – maka iman terhadapnya adalah wajib dan mendustakannya adalah fasiq jika tidak karena mentakwilkan zhahirnya yang dimungkinkan.

Pembahasan mengenai hal – hal yang terkait sam’iyyat ini akan dibahas lebih lanjut detilnya pada pembahasan selanjutnya.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.